Breaking News

Insanial Burhamzah : "Islam vs Geopolitik Global"


By : Insanial Burhamzah

PENDAHULUAN

Saya mencoba memahami para peng-Kritik saya yang berlatar belakang non- muslim. Karena tentu mereka tidak tahu atau kurang memahami apa itu esensi makna aksi bela Islam 212. Dan mungkin juga mereka tidak paham tentang muculnya kebangkitan komunisme / atheisme yang rekam jejaknya telah mencederai eksistensi NKRI yang kita bangun dari azas berke-Tuhanan yang maha Esa. Yang seharusnya mereka berada pada barisan yang sama dengan GNPF – MUI untuk mencegah terhadap gangguan yang mengancam nilai-nilai keTuhanan kita bersama dari adanya upaya bangkitnya komunisme.

Namun, saya kaget dan agak sedikit prihatin bercampur sedih jika ada orang  yang mengaku Ummat Islam, yang terlalu mengedepankan pemikiran sekulernya, sehingga tanpa merasa berdosa dan dengan angkuhnya memelintir esensi makna agamanya, karena alasan mengikuti perubahan teknologi dan peradaban dunia, bahkan mereka mengklaim bahwa agama akan kehilangan maknanya ditengah alam liberalism berfikir. Tapi, dia marah jika di katakan mereka itu aliran kaum fasik yg saudara kandung dengan ateis komunis

Pada umumnya mereka itu terdiri dari tiga kelompok yakni Kelompok _Islam Pasif_ dan _Kelompok Komprador_ (Centeng Asing dan musuh agama) dan kelompok Komunis gaya baru (Komunis-Neolib).

Dimana, mereka melihat perjuangan bela Islam 212, sebagai tindakan politik jangka pendek sesaat dalam Pilkada DKI dan pendukung rezim ini. Padahal dibalik persoalan Pilkada DKI dan sejumlah masalah yang ada sengaja di “hiden” atau disamarkan adalah menjadikan kelompok yang mereka bela seolah olah representasi dari kelompok anti Korupsi yang menjunjung tingggi nilai kejujuran.  Kedua kelompok itu jelas terperangkap dalam doktrin media mainstream yang bernuansa sekuler yang sangat sering menyudutkan dan bahkan menyerang Islam. Sehingga bukan tidak mungkin mereka sudah terseret jauh dan terjangkit IslamoPhobia. Mereka tidak bangga lagi dengan identitas ke _Islamannya,_ tetapi lebih bagga dengan penampilan neo-liberalnya. Karena begitu banyaknya tuduhan-tuduhan yang sarat dengan nuansa fitnah terhadap Islam yang dianggap sebuah kebenaran. Seperti Islam adalah Teroris, anti pluralism serta intolerance dan terakhir adalah Islam melahirkan pemimpin yang korup. Sebagaimana opini hoax yang sengaja kembangkan oleh media mainstream dalam dunia cyber, apalagi mereka didukung oleh aksi Densus 88 yang begitu seringnya menangkap tersangka teroris yang terkait atau dikaitkan dengan nama Islam, menjadikan aksi Islam sebagai sebuah stereotype radikal dan kekerasan.

Tentu saja, mengenali persamaan kemanusiaan kita hanyalah awal dari tugas kita. Dan tentu kata-kata saja tidak dapat memenuhi kebutuhan rakyat kita. Kebutuhan-kebutuhan itu baru terpenuhi jika kita berani bertindak di tahun-tahun mendatang; Dan kita harus bertindak dengan pemahaman bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi adalah tantangan bersama, dan kegagalan kita mengatasinya akan merugikan kita semua.

Pengalaman tersebut mengarahkan keyakinan saya bahwa kemitraan Islam dalam kerangka NKRI harus didasarkan pada makna Aksi bela Islam 212 itu, bukan pada apakah yang bukan Islam. Dan saya menganggap ini adalah bagian dari tanggung jawab kita bersama sebagai bangsa yang berkeTuhanan untuk MEMERANGI stereotip negatif tentang Islam dari pihak mana saja yang memunculkannya.

Prinsip yang sama harus diterapkan pada persepsi tentang Aksi bela Islam 212. Sebab Aksi bela Islam 212  di Indonesia bukan sebuah stereotip mentah tentang sebuah ideology dogmatis yang hanya punya kepentingan sempit sendiri. Sejarah telah mencatat bahwa kehadiran 7,5 juta orang pada Aksi bela Islam 212  telah menjadi salah satu aksi terbesar yang dikenal dunia. Sebab mereka paham dan terpanggil untuk menjaga warisan Islam yang bernama NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Sebabagaimana kita ketahui bahwa Islam ikut melahirkan revolusi melawan penjajahan di berbagai belahan dunia. Di antaranya adalah Indonesia, yang lahir dari sebuah ide bahwa semua orang diciptakan sama, sehingga para Suhadanya rela menumpahkan darah mereka dalam perjuangannya selama berabad-abad, demi memberikan arti kata Indonesia – untuk menjadi bangsa yang sejajar dengan setiap bangsa bangsa di dunia. Walaupu demikian kami juga sadar bahwa NKRI terbentuk oleh setiap suku, budaya dan bangsa yang datang dari setiap sudut bumi, dan berdedikasi pada sebuah konsep Kebhinekaan “Dari banyak menjadi satu”.

GEOPOLITIK GLOBAL

Kita memang belum tentu bersepakat bahwa persaingan global Amerika Serikat (AS) versus Cina di kawasan Asia Pasifik, khususnya Asia Tenggara, akan mengarah pada konflik bersenjata sebagaimana diprediksi oleh Dr Samuel Huntington pada dekade 1990-an. Namun ada satu tren global yang saat ini tak terbantahkan: Persaingan global antar negara-negara adidaya, yaitu antara AS versus Cina-Rusia, telah bergeser dari kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah, ke kawasan Asia Pasifik. Artinya, Asia Pasifik akan menjadi “Medan Perang” baru berbaga kepentingan negara-negara adidaya. Sehingga Indonesia, otomatis juga akan menjadi “Sasaran Arena Pertarungan” berbagai negara-negara adidaya, melalui perang Asymetris.

Namun, semua sedang mengkaji keberadaan perang asimetris, yg memiliki tiga sasaran antara lain : (1) _membelokkan sistem sebuah negara sesuai arah kepentingan kolonialisme_, (2) _melemahkan ideologi serta mengubah pola pikir rakyat,_ dan (3) _menghancurkan food security [ketahanan pangan] dan energy security (jaminan pasokan dan ketahanan energy) sebuah bangsa_, selanjutnya _”menciptakan ketergantungan negara target terhadap negara lain dalam hal food and energy security”._

Keprihatinan Beijing adalah blokade oleh AS di laut China. Sebab, akan berdampak langsung terhadap perekonomiannya apabila hal itu terjadi.

Oleh karena itu, masalah krusial yang dihadapi Cina dalam pertarungan global dengan AS, _critical path_ nya ada di kawasan ini, sebagai Konfigurasi perairannya baik di Laut Cina Selatan maupun Laut Cina Timur sangatlah mudah diblokade pihak luar. Laut Cina Timur contohnya, terbentang di antara wilayah Korea, Jepang dan Taiwan, sedangkan Laut Cina Selatan pada bentangan antara Taiwan, Filipina, Indonesia dan Singapura.

Barangkali inilah shock and awe (gertak menakut-nakuti) yang dijalankan AS dalam rangka “melemahkan mental” Cina. Belum lagi masalah munculnya ancaman dari Taiwan, Korea Selatan, Philipina, dan lainnya. Makanya, China beraksi menguasai Indonesia membangun pangkalan militer di Natuna dan ---pulau konflik--- berdalih reklamasi mengembangkan sektor sipil. Namun, AS pun bereaksi atas rencana tersebut lalu melakukan patroli udara di sekitaran langit Spratly. Inilah sekilas mapping kekuatan militer Cina dihadapkan dengan potensi serta prakiraan ancaman kedepan.

Maka itu, mengimbangi pengaruh AS yang begitu kuat secara militer di Asia Pasifik, Cina lebih menekankan pola perang nirmiliter/asymetris dalam menguasai wilayah-wilayah yang bernilai strategis secara geopolitik di kawasan Asia Pasifik, Asia Tenggara, dan tentunya Indonesia. Dan untuk itu, kekuatan ekonomi Tiongkok merupakan landasan utama kekuatannya untuk bermain di kawasan ini.

Kedigdayaan Tiongkok di bidang ekonomi dibandingkan AS semakin terlihat ketika perusahaan Tiongkok menjadi operator strategis Pelabuhan Gwadar yang terletak di dekat Selat Hormuz dan merupakan pelabuhan paling sibuk untuk jalur pelayaran minyak, sejak Februari 2013.

Tiongkok menanamkan investasi sebesar USD 250 juta untuk mengambil alih operasional perusahaan dalam rangka meraih keuntungan yaitu mengurangi biaya pengiriman barang dari Tiongkok ke Timteng dan Afrika. Namun, langkah itu juga dapat diartikan memberikan warning kepada AS bahwa geopolitik utama Tiongkok  telah dialihkan ke kawasan Asia Pasifik.

CYBER WAR

Kita telah berada pada abad ke 21, atau bisa juga dikatakan sebagai abad digital atau cyber media. Pada abad sebelumnya kita hanya mengenal perang konvensional secara fisik sebagaimana kita lihat dalam pertempuran pisik yang mengakibatkan kehancuran, terbunuhnya sejumlah orang dan pendudukan wilayah. Namun dalam perang cyber ini sebagian besar aktivitasnya terjadi di belakang meja dan tidak kasat mata. Tapi potensi kerusakan yang ditimbulkan oleh cyber war ini bisa jadi sama membahayakannya dengan perang konvensional.

Aktivitas yang terjadi pada perang cyber ini pada umumnya adalah kegiatan hacking dan anti-hacking yang dilakukan secara 'resmi' oleh negara. Tujuannya mulai dari mencuri data hingga melumpuhkan sistem yang dimiliki oleh negara musuh. Dengan terhubungnya seluruh dunia melalui jaringan internet, Amerika, China, Rusia, Iran, Korea Utara, Korea Selatan, Jepang dan banyak lagi negara eropa dan timur tengah, maka setiap hari mereka terlibat dalam kegiatan cyber war ini. Indonesia sendiri pernah terlibat 'cyber war' dengan Malaysia dan Australia, saat hubungan antar negara mengalami ketegangan beberapa waktu lalu, tapi sepertinya 'perang' itu bukan disponsori oleh negara.

Seperti juga cyber crime, bentuk cyber war sendiri bermacam-macam. Mulai dari yang non teknis seperti penyebaran propaganda melalui media sosial, dalam bentuk gambar-gambar maupun artikel atau kegiatan bully mem-bully. Hingga yang luar biasa canggih seperti penyebaran virus stuxnet yang dirilis oleh Israel dengan target melumpuhkan reaktor nuklir Iran, atau peristiwa 'pembajakan' drone Amerika oleh Iran beberapa waktu lalu.

Dari pembahasan terminologi cyber di atas, dan terkait dengan beberapa kajian akademis tentang ancaman nyata terhadap Islam dan NKRI dalam beberapa decade maka, kondisi yang yang dipicu oleh penistaan agama saat ini, suka atau tidak suka kita sudah di tantang untuk masuk kedalam Cyber War.

Oleh karena itu, bahasa yang digunakan dalam Cyber-War berbeda dengan bahasa yang digunakan di dalam komunikasi cyber non-war. Didalam Cyber War, berlaku juga paham “ Kill or to be Killed” sehingga semua kalimat bernuansa “Attacking Against Invader”.

Walaupun demikian, sebagai Muslim kami tetap menjujung tinggi etika dan ahklaq, meskipun tidak diatur secara tertulis, aksi kami dalam Cyber War sangat menghindari merilis info hoax. Sekalipun musuh Islam sangat sering memutar balikkan fakta dengan menyebar berita yang sarat dengan nuansa Hoax (Kebohongan).  Sebab pada dasarnya berperang dalam ajaran Islam hanya boleh dilakukan jika dalam keadaan terdesak untuk mempertahankan diri dan tidak pernah digunakan sebagai satu kegiatan menyerang umat lain.

KOMUNIS GAYA BARU

Gagalnya ekonomi negara-negara Komunis dimasa lalu, terpaksa harus mencari solusi untuk menciptakan pegangan baru, guna meraih hidup yang lebih bermakna. Namun, dalam proses mencari hidup yang lebih bermakna, Komunis harus mengalah oleh kenyataan yang ada dan tanpa malu-malu bermutasi dari Komunis-sosialis ke komunis-Neolib yang dikendalikan dengan cara Kapitalis sejati pula ( _Kleptokrasi dan Plutokrasi_). Artinya mereka telah mengingkari peran Socialisme yang diadopsi dari ilmu distribusi ekonomi yang mempunyai beberapa variant turunan salah satunya adalah “ Sosialisme-Komunis”, karena komunisme adalah (Marx + Energi bebad), ideologi yang lain dianggap hanya *Anarchisme* (Massa Goverment dan keadaan tanpa ada alat pemaksa), sindikalisme yaitu gabungan antara anarchisme dan socialisme seperti di praktekan di brazil.

Maka, negara Komunis saat ini tanpa malu, tanpa merasa berdosa, tanpa merasa berkhianat rela meninggalkan _ekonomi sosialisnya_ menuju _*ekonomi pasar*_. Bahkan, selama beberapa decade terakhir, dimana negara-negara komunis justeru menjadi garda terdepan dari *Neolib / Neoliberalisme* yang juga dikenal sebagai paham ekonomi neoliberal yang mengacu pada filosofi _ekonomi-politik akhir-abad keduapuluhan-, yang di-redefinisi dan kelanjutan dari _liberalisme klasik_ yang dipengaruhi oleh teori perekonomian _neoklasik_ yang mengurangi atau menolak penghambatan oleh pemerintah dalam ekonomi domestik karena akan mengarah pada penciptaan Distorsi dan High Cost Economy yang kemudian akan berujung pada tindakan koruptif. Paham ini memfokuskan pada pasar bebas dan perdagangan bebas merobohkan hambatan untuk perdagangan internasional dan investasi agar semua negara bisa mendapatkan keuntungan dari meningkatkan standar hidup masyarakat atau rakyat sebuah negara dan modernisasi melalui peningkatan efisiensi perdagangan dan mengalirnya investasi. Sehingga, nyaris tidak terlihat lagi sosialisme pada negara komunis dan bahkan China membangun hegemony-nya melalui bentuk konspirasi dengan para kapitalis di negara-negara yang dijadikan sasaran perang Asymetris nya.

Sehingga esensi makna _Sosialisme dan Komunisme_ itu menjadi dua hal yang berbeda, sosialisme lahir dari teori ekonomi tentang subsidi antara yg lebih kepada yg kurang, sedangkan komunisme adalah ideologi yg menekankan penghilangan subsidi (karena tidak ada kaya miskin dalam komunisme) dan tidak mengakomodir ideologi lain.

Jadi intinya apa?, _komunisme itu non sense alias “agama anti tuhan” berdasarkan teori sociologi dan ekonomi yg statis dan kuno, sedangkan socialist adalah ilmu ekonomi yg berkembang terus sesuai keadaan pasar yg menitik beratkan pada distribusi welfare dan pajak. jadi kalo ada buruh mengaku komunis maka seharusnya mereka tidak boleh demo, karena komunisme dalam teori surplus value hanya menghitung kalori dan tidak menghitung _rice cooker, perfume, kredit motor dsb.-_

SOSIALISME DALAM REALITAS ILAHI

Tidak semua orang memandang bahwa proses _sosial_ berdasarkan perintah Ilahiah. Orang Buddha dan apalagi Komunisme, sebagaimana kita ketahui, mereka menolak bahwa visi dan wawasan yang diperoleh lewat pengalaman yang berasal dari suatu sumber supranatural. Tetapi mereka menganggapnya sebagai hal yang alamiah bagi kemanusiaan. Akan tetapi, semua agama besar yang berbasis Tauhid (monoteis) sepakat bahwa adalah mustahil untuk menggambarkan Transendensi_(merupakan cara berpikir tentang hal-hal yang melampaui apa yang terlihat, yang dapat ditemukan di alam semesta. Contohnya, pemikiran yang mempelajari sifat Tuhan yang dianggap begitu jauh, berjarak dan mustahil dipahami manusia.)_ kedalam bahasa konseptual biasa. Islam menyebut transendensi sebagai Allah SWT., dan agama monoteis lainnya menyebut transendensi ini “Tuhan”., namun mereka membatasinya dengan syarat-syarat penting. Yahudi, misalnya, dilarang mengucapkan nama Tuhan yang sakral sedangkan umat Islam tidak diperkenankan melukiskan bentuk Allah SWT secara visual. Sebagai pengingat bahwa apa yang kita sebut "Tuhan" berada di luar ekspresi manusia.

Esensi makna sosial dalam Islam bukan dalam pengertian biasa, sebab esensi makna sosial dalam Islam tidak tumbuh dari satu titik kemudian berkembang secara linear menuju suatu konsepsi final. Teori-teori ilmiah mempunyai sistem kerja seperti itu, tetapi ide-ide dalam Islam tidak. Sebagaimana dalam puisi cinta, orang berulang-ulang menggunakan ungkapan yang sama tentang Tuhan. Bahkan kita dapat menemukan kemiripan telak dalam gagasan tentang Sosial di kalangan orang Yahudi, Kristen, dan Islam. Meskipun orang Nasrani, Yahudi maupun Islam masih terjadi kontra terhadap pemahaman nilai “Tuhan”, berdasarkan teologi-teologi kontroversial versi mereka yang di ekspresikan melalui variasi tema-tema universal ini.

Apa pun kesimpulan yang kita capai tentang realitas Ilaihi, dapat mengatakan kepada kita sesuatu yang penting mengenai pikiran manusia dan inti aspirasi kita. Di tengah kecenderungan pemikiran yang menggiring kita pada sekularisme dan liberarisme di kalangan masyarakat dunia, In shaa Allah, ide tentang nilai ke-Tuhan-an masih mempengaruhi kehidupan milyaran orang; walaupun masyarakat agamis masih berada pada lingkaran perdebatan tentang, "Tuhan" menurut konsep mana yang mereka anut? Teologi sering memberikan penjelasan yang membosankan dan gramatikal, tetapi kata untuk esensi Tuhan yang ilahiah dan tak terjangkau Al-Dzat—adalah feminin. Sehingga semua perbincangan tentang Tuhan adalah perbincangan yang sulit. Walaupun, kaum monoteis bersikap amat positif tentang _nomenklatur_ Nya, namun KONES (Komunis-Neolib-Sekuler) tetap menyangkal kapasitasnya untuk mengekspresikan realitas transenden. Selalipun Firman Tuhan telah membentuk sejarah kebudayaan kita, dan ikut melahirkan *Pancasila* di NKRI, namun anehnya Pancasila mereka   benturkan dengan Islam. Sehingga menjadi pertanyaan apakah kata "Tuhan" masih tetap memiliki makna bagi mereka?.

Tidak ada komentar