Breaking News

Antisipasi Gagal Panen, Petani Tadah Hujan Manfaatkan Teknologi Pipa Imbuh

Rahmansah bersama Mahasiswa KKN-PPM


Kepala Desa Patampanua, Amiruddin, S.Ag

Dr. Ir. H. Bakhrani Rauf , MT dan Rahmansah sedang memberikan pembekalan KKN-PPM pada mahasiswa


Reporter : Ibnu Sultan

WATANSOPPENG, LAMELLONG.COM; -- Salah satu faktor yang dapat meningkatkan bahkan sangat menentukan produksi pertanian khususnya tanaman padi dan palawija adalah ketersediaan air untuk mengairi areal lahan persawahan.

Bagi petani yang lahannya merupakan areal persawahan irigasi, tentu hal ini bukanlah menjadi permasalahan. Tetapi petani yang lahan garapannya tak terjangkau dengan sarana pengairan yang hanya mengharapkan turunnya hujan atau lahan tadah hujan, mereka menjadikan permasalahan serius di saat musim kemarua tiba.

Jangankan produksi meningkat, gagal panen pun dapat mengancam mereka jika kebutuhan ketersediaan akan air ini tidak terpenuhi.

Pada musim kemarau, petani khususnya pada lahan tadah hujan, kurang produktif di dalam melakukan usaha tani, seperti padi dan palawija.

Hal ini juga dialami oleh petani lahan tadah hujan di Kecamatan Marioriawa Kabupaten Soppeng.

Sebagian masyarakat petani lahan tadah hujan, pada musim kemarau, mengalami kesulitan mendapatkan air untuk mengairi lahan persawahan. Sehingga petani kesulitan di dalam berusaha tani, bahkan berpotensi mengakibatkan gagal panen.

Menurut Rahmansah dosen Fakultas Teknik UNM, kebutuhan air pada tanaman padi dan palawija, selain dapat memanfaatkan air irigasi atau air hujan, juga dapat memanfaatkan air bawah permukaan (air tanah).

Lanjutnya, Kecamatan Marioriawa, memiliki potensi air tanah yang melimpah. Dimana sebagian wilayah Kecamatan Marioriawa merupakan wilayah atau berbatasan dengan danau Tempe.

Masyarakat petani tadah hujan belum optimal di dalam memanfaatkan potensi air tanah tersebut untuk berusaha tani. Sehingga petani tidak dapat melakukan usaha tani pada musim kemarau. Petani belum terampil membuat sumur bor sistem pipa konservasi air tanah (pipa imbuh) untuk kebutuhan usaha tani.

Permasalahan ini menjadi perhatian serius Rahmansah bersama Bakhrani Rauf untuk membantu masyarakat petani tadah hujan menyelesaikan permasalahannya, khususnya di Kecamatan Marioriawa Kabupaten Soppeng. Keduanya merupakan Dosen Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Makassar (UNM).

Sebagai bentuk solusi dari permasalahan ini, melalui program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM), Rahmansah dan Bakhrani Rauf menerapkan Sumur Bor Sistem Pipa Konservasi Air Tanah (Pipa Imbuh) dengan melibatkan 32 orang mahasiswa yang sebelumnya telah dibekali dengan keterampilan menerapkan sumur bor sistem imbuh untuk membantu masyarakat petani.

Sumur bor sistem imbuh, adalah sumur bor yang dilengkapi dengan pipa imbuh untuk menkonservasi air tanah. Pipa imbuh empat titik diletakkan mengitari sumur bor untuk menaikkan permukaan air tanah guna memudahkan pemompaan.

"Semakin banyak pipa imbuh di sekitar sumur bor, semakin dekat muka air tanah ke permukaan," kata Rahmansah.

Sehingga, lanjut Dosen tiga anak ini, semakin memudahkan pemompaan air yang dapat dimanfaatkan oleh petani untuk berusaha tani.

Menurutnya, Program KKN-PPM adalah salah satu skema program pengabdian masyarakat oleh Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (RISTEK DIKTI).

tambahnya, program ini merupakan implementasi salah satu dari Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat.

Dikatakan, Program ini dilaksanakan sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat. Khususnya masyarakat petani di Kecamatan Marioriawa.

Pantauan Lamellong.com di lokasi kegiatan, masyarakat setempat secara bersama-sama dan gotong-royong memelihara dan memanfaatkan sumur bor sistem pipa imbuh untuk berusaha tani dan kebutuhan lainnya seperti untuk air minum hewan ternak. Di dalam proses pelaksanaan kegiatan program KKN-PPM ini, mereka antusias mengikuti mulai dari awal sampai akhir pelaksanaan kegiatan tersebut, yakni mulai hari Rabu tgl 5 April-Kamis,18 Mei 2017 (sekitar 45 hr)

Koorcam KKN-PPM 2017, Usman dari Fakultas Ilmu Pendidikan mengatakan, pelaksanaan program KKN-PPM ini adalah penerapan sumur bor sistem pipa konservasi air tanah dilengkapi empat pipa imbuh mengitari sumur bor yang menghasilkan debit air 7-8 liter/detik.

Kepala Desa Patampanua, Amiruddin, S. Ag. terlihat tidak dapat menyembunyikan rasa kebahagiaannya atas kegiatan KKN-PPM ini di Desa yang dipimpinnya sejak 5 tahun lalu. Selain berterima kasih kepada pihak Lembaga Pengabdian Masyarakat  Universitas Negeri Makassar (LPM UNM), ia pun berharap agar ke depan desanya dapat menjadi mitra LPM UNM dalam melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat. Kehadiran LPM UNM di Desa Patampanua melalui program KKN-PPM dengan penerapan sumur bor sistem imbuh ini sangat bermanfaat khususnya bagi masyarakat petani. Ia pun berharap agar masyarakat dapat memelihara sumur bor sistem imbuh ini sehingga tetap berkelanjutan dan dapat dimanfaatkan untuk berusaha tani. Sumur bor sistem imbuh ini merupakan model baru sehingga dapat dijadikan contoh oleh masyarakat secara luas. (*)



Tidak ada komentar