Breaking News

LGBT, Bukan Sekadar Penyakit tetapi Lebih kepada Norma Adat, Sosial dan Agama

Oleh : Hanafi Sukri

Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2014 
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Ekasakti (UNES) Padang Sumatera Barat


Fenomena LGBTQ sudah terjadi sejak zaman dahulu hingga sekarang. Perilaku penyimpangan orientasi seksual ini menjadi salah satu kajian kontroversi bilamana diangkat dalam sebuah topik pembicaraan.

Ya, LGBTQ merupakan akronim dari kata Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan yang terakhir Queerer. Lesbian merupakan wanita yang tertarik secara seksual dan perasaan kepada sesamanya, begitupun dengan gay, hanya yang membedakan, pelakunya sesama laki-laki.

Sementara transgender adalah mereka yang melakukan perubahan wujud gender, baik itu penampilan dan fisik menyerupai lawan jenisnya sendiri. Hal berbeda justru terletak pada Biseksual yang memiliki ketertarikan secara perasaan dan seksual kepada semua jenis gender baik itu laki-laki maupun perempuan.

Sedangkan Queerer adalah mereka yang masih ragu dan mencari dominan orientasi seksualnya dalam penyimpangan.

Banyak sudut pandang dan alasan yang menjadikan LGBTQ, salah satu hal yang kontroversial, bukan hanya dari segi kehadiran dan eksistensinya, tetapi lebih kepada konteks dan konten yang begitu kompleks mempengaruhi kehidupan masyarakat millenial saat ini.

LGBTQ atau homoseksual sudah ada sejak dahulu kala, berdasarkan sejarah, perilaku penyimpangan seksual ini sudah ada sejak zaman nabi Luth, tepatnya kaum sodom/Sadum. Perilaku penyimpangan seksual ini menjadi kontroversial semenjak ketuk palu Mahkamah Agung Amerika Serikat yang melegalkan pernikahan sejenis, hal ini berdampak pada kelompok LGBTQ di Indonesia.

Banyaknya dukungan termasuk dari kalangan selebriti tanah air membuat kelompok LGBTQ berharap pemerintah mengikuti langkah Amerika Serikat dalam melegalkan pernikahan sejenis dengan alasan hak azazi manusia. Menilik tentang kajian hak azazi manusia, ada pertentangan antara paham universalisme dan partikularisme tentang Hak Azazi Manusia (HAM). Paham universalisme menyatakan, HAM adalah sesuatu yang universal termasuk di dalamnya zina dan LGBTQ yang tidak bisa dipidanakan. Sementara paham partikularisme menyatakan HAM itu tergantung kebutuhan lokal dan masyarakatnya.

Nah, hal inilah yang seharusnya dijadikan landasan, kenapa Indonesia tidak bisa melegalkan pernikahan sesama jenis. Indonesia sendiri menandatangani deklarasi HAM tahun 1998 di Kairo, Mesir, menyatakan, HAM antara Barat dan Timur itu berbeda, karena di Timur berdasarkan agama dan adat istiadat. Selain itu, agama apapun di Indonesia, notabene-nya tidak ada yang mendukung pernikahan sesama jenis LGBTQ.

Bicara tentang hak, berarti bicara tentang hukum yang berlaku di Indonesia, di mana berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, Indonesia adalah bangsa yang berketuhanan.

Kembali pada pembahasan LGBTQ, berdasarkan kajian psikologi, ini merupakan salah satu bentuk gangguan kejiwaan. Di mana penderita penyimpangan seksual dapat menularkan kebiasaan melalui teori perilaku. Tetapi hal ini dapat disembuhkan dengan metode bimbingan konseling yang tepat.

Berdasarkan analisa kesehatan sendiri, diantara perilaku penyimpangan seksual ini, biseksual menjadi salah satu perilaku yang sangat beresiko tinggi terhadap penyakit menular dan mematikan, seperti, HIV/Aids, kanker anal dan mulut rahim (*pada wanita jika suaminya biseks). Hanya saja dari segi sosialnya, biseksual merupakan pilihan teraman karena tidak mudah untuk dideteksi keberadaannya. Dengan kata lain seorang biseksual merupakan aktor Dramaturgi yang sangat profesional yang mampu menghadapi dan mengcover dua sisi kehidupan antara pasangan lawan jenis (konteks heteroseksual) dan pasangan sejenisnya (homoseksual).

Beberapa faktor yang melatarbelakangi perilaku penyimpangan seksual di antaranya :

1). Pelecehan seksual

Pelecehan seksual menjadi faktor penyumbang terbesar seseorang menjadi LGBTQ, di mana ketika anak-anak dilecehkan dan menginjak remaja mendapat penegasan orientasi, maka hal ini dipastikan berakibat pada penyimpangan seksual. Hal inilah yang sangat menakutkan ketika mereka yang menjadi korban pelecehan seksual dan fedofilia saat ini beberapa tahun mendatang akan dipastikan menjadi seorang LGBTQ jika tidak mendapatkan konseling yang tepat dan benar.

2).  Faktor Ekonomi

Kebutuhan menjadi salah satu prioritas dalam kehidupan, faktor kekurangan dari segi ekonomi membuat seseorang rela melakukan penyimpangan seksual guna pemenuhan kebutuhan.

3). Faktor Keluarga

Anak yang broken home, sering mendapat perlakuan kasar serta anak yang merindukan kasih sayang dari sosok figur harapannya akan mencari segala sesuatunya dalam pemenuhan keinginannya, seperti, mencari kebebasan, menilai bahwa ternyata pihak sesama jenis lebih care, mendapat gambaran kasih sayang sosok seorang ayah dari laki-laki yang memiliki orientasi menyimpang dan merasa nyaman dalam kondisi yang mengarah pada LGBTQ.

4). Pergaulan

Kesalahan ketika berteman dan menganggap bahwa penyimpangan perilaku yang dilakukan teman adalah hal yang wajar dan cendrung permisif/diterima saja, berdampak pada tradisi ikut-ikutan (generasi bebek) terhadap penularan penyakit LGBTQ ini.

5). Trauma

Trauma masa lalu terhadap perilaku lawan jenis baik itu dari keluarga ataupun dari kisah percintaan dengan lawan jenis sebelumnya seperti penghianatan dan kegagalan bercinta, menjadi stimulus penyebab perilaku seksual yang berbeda.

6. Pengaruh sosial

Sosial masyarakat yang tidak aware atau care bahkan cendrung permisif menjadikan penyimpangan seksual ini seolah-olah adalah hal yang waja, seperti halnya keberadaan figur pelaku penyimpangan seksual pada acara-acara di media massa yang dianggap sah-sah saja.

7. Ketidakpuasan
*Dominan pada Biseksual.

Nah untuk faktor yang terakhir ini adalah hasil wawancara dengan salah seorang biseksual, di mana berdasarkan pengakuannya, dirinya tidak menikmati dan mendapatkan kepuasan dari hubungan seksual dengan lawan jenisnya. Contohnya, ketika berhubungan seksual seringkali dengan pasangan lawan jenis, dapat merubah bentuk fisik dan tingkat fantasi dalam seksual, apalagi faktor usia dari pasangan, sementara hubungan sejenis melalui anal tidak merubah bentuk fisik dan diakuinya sangat nikmat tanpa ada resiko kehamilan.

Hanya saja setiap pelaku dari perilaku penyimpangan seksual memiliki faktor penyebab yang berbeda di setiap individunya. Hal terbaik untuk dilakukan adalah kita memberikan konseling agar perubahan pola pikir dari stimulus yang mendoktrin mereka menjadi seorang berperilaku seksual menyimpang berbalik ke arah yang lebih baik dengan normal kembali.




Tidak ada komentar