Breaking News

Ternyata Appi-Cicu Hanya Bisa Menang Melawan Kotak Kosong



MAKASSAR.LAMELLONG.COM : - Skenario kotak kosong diyakini merupakan strategi yang dipaksakan oleh pasangan Munafri Arifuddin-Rachmatika Dewi (Appi-Cicu) guna memenangkan Pilkada Kota Makassar 27 Juni mendatang.

Pasalnya, berbagai hasil survei menunjukkan bahwa calon petahana pasangan Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto-Indira Mulyasari (DIAmi) sulit dikalahkan jika harus berhadapan langsung di bilik TPS. Elektabilitas Danny unggul jauh dari rivalnya berkat kinerja dan prestasinya selama memimpin Kota Makassar.

Berbagai hasil riset menunjukkan fakta tersebut. Celebes Research Center (CRC) merilis elektabilitas DIAmi 71,8% sedang Appi-Cicu hanya 18,8%. Indeks Politica Indonesia (IPI) merilis DIAmi 64% dan Appi-Cicu hanya 19%. Bocoran terakhir dari sebuah lembaga survei nasional DIAmi 63% sedang Appi-Cicu masih bertengker di angka 18%.

“Dengan kondisi elektabilitas seperti itu, secara perhitungan ilmiah, peluang penantang untuk menang kalau berhadapan langsung dengan petahana di bilik TPS, itu nol persen peluangnya. Jadi memang satu-satunya cara bagi penantang untuk bisa menang adalah membuat petahana tidak maju bertarung,” ulas Direktur Eksekutif Jaringan Suara Indonesia (JSI) Popon Lingga Geni, saat dimintai analisanya terkait fenomena kotak kosong di Pilkada Makassar, Jumat (23/3/2018).

Ia mengatakan, kepuasan publik yang tinggi memang membuat Danny menjadi calon petahana yang hampir mustahil dikalahkan dengan cara-cara normal. Penantang mau tak mau harus menempuh strategi yang abnormal untuk bisa memenangkan pertarungan.

“Kalau berhadapan langsung hampir nihil peluang Danny bisa dikalahkan. Kecuali ada kejadian luar biasa seperti ditetapkan sebagai tersangka korupsi, terseret isu penistaan agama seperti di DKI dan lain-lain. Tapi strategi yang paling aman untuk memastikan kemenangan adalah membuat petahana tidak bisa maju bertarung seperti yang terjadi saat ini di Pilkada Makassar,” beber Popon.

Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara membuka jalan bagi Appi-Cicu untuk bisa menyingkirkan lawan terkuatnya dari panggung Pilkada. Dalam proses kasasi yang sedang berjalan di Mahkamah Agung, Appi-Cicu dipastikan akan menggunakan segala daya upaya untuk menghalangi DIAmi maju di pilkada.

Skenario kotak kosong sendiri dinilai akademisi perguruan tinggi sebagai sebuah bentuk pelecehan terhadap demokrasi dan suara rakyat. Sebab rakyat tidak diberikan pilihan untuk memilih calon pemimpin yang terbaik.

“Betul dengan melawan kotak kosong tentu tidak sesuai dengan semangat demokrasi dimana rakyat diberikan pilihan untuk memilih pemimpinnya yang terbaik,” kata pakar politik dari Universitas Hasanuddin, Prof Dr Aminuddin Ilmar, Rabu (21/3/2018).

Menurut pakar tata kelola pemerintahan ini, demokrasi yang baik memberi setidaknya dua pilihan calon pemimpin kepada masyarakat. Bukan memberikan satu pilihan saja, sehingga mau tak mau masyarakat tidak memiliki pilihan lain.

“Skenario kotak kosong mencederai hak suara rakyat untuk memilih pemimpin yang terbaik sebab yang namanya pemilihan pemimpin harus ada pilihan lain, bukan tidak ada pilihan dan bukan memfait acompli (fetakompli) masyarakat untuk hanya memilih satu pilihan saja,” tandasnya. (***)

Tidak ada komentar