Breaking News

Festival La Galigo dan Seminar Internasional di Soppeng 2018

Sekretaris Panitia Festival La Galigo dan Seminar Internasional Kabupaten Soppeng 2018 Agus Setiawan PH Rauf, SE, dan Ketua Kompartemen Publikasi  dan Informasi, FAS Rachmat KAMI, S.Sos


Kedelapan (Habis) dari Delapan Bagian Tulisan)

Menjelang Festival La Galigo dan Seminar Internasional tentang Kebudayaan di Kabupaten Soppeng, sesuai jadwal festival ini akan berlangsung pada 25 - 30 Oktober 2018.

Festival La Galigo dan Seminar Internasional di Soppeng ini dielenggarakan Pemerintah Kabupaten Soppeng bekerjasama dengan masyarakat Soppeng dalam suatu kepanitiaan di bawah koordinasi Pemkab melalui Badan Promosi Pengembangan Daerah (BPPD) Kabupaten Soppeng.

Kepanitiaan ini diketuai oleh Farouk M Adam. Menurutnya, festival tersebut akan dipusatkan di 3 lokasi, yakni; Kecamatan Lalabata, Marioriwawo dan Marioriawa.

Festival dan Seminar Internasional ini, selain dari kabupaten/kota dalam Sulawesi Selatan, Sulawesi, daerah provinsi di Indonesia, juga akan dihadiri sejumkah budayawan dan seniman dari berbagai negara di dunia ini.

Dapat dibayangkan, betapa banyak seniman dan budayawan berkelas daerah, nasional dan internasional yang meramaikan event ini di Soppeng. Bule -bule dari luar negeri akan ramai di Soppeng di akhir Oktober 2018 ini.

Seperti pernah dipaparkan oleh salah satu panitia festival ini di Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Soppeng di Jl. Kemakmuran Watansoppeng beberapa hari lalu, Agus Setiawan PH Rauf, SE selaku Sekretaris Panitia, kalau La Galigo bukankah nama seseorang tetapi nama sebuah karya sastra asli Bugis.

Dipaparkan, La Galigo mempunyai dua pengertian, yaitu;
La Galigo adalah anak dari Sawerigading dari isterinya yang bernama I We Cudai; dan La Galigo adalah judul sebuah buku, yaitu buku kumpulan ringkasan Surek Galigo oleh R. A. Kern, yang diterjemahkan  oleh La Side dan Sagimun MD. Peneribit Gajah Madah Univesity Press; dan Transliterasi dan terjemah dari Naskah NBG 188 yang disusun oleh Retna Kencana Colli PojiE, papar Agus PH Rauf.

Sebelum diuraikan apa saja isi dari sastra Bugis tersebut, ada baiknya kita sedikit mengetahui apa itu Bugis dan bagaimana sejarah orang Bugis.

Sebelum dilanjutkan tosan ini, perlu dipaparkan, kalau Ketua Panitia Festival telah mendapatkan masukan dari pihak yang berkompeten, kalau Festival yang akan digelar di Soppeng nanti ini bernama Festival La Galigo, bukan I La Galigo. Ini disampaikan mengoreksi yang selama ini sudah terpublikasikan via media.

Dalam tulisan ini, redaksi mengutip salah satu yang ditulis oleh Gufron, dipublikasikan di blognya

Redaksi menayangkan dalam 8 bagian, berikut tulisan dimaksud;

Kedelapan atau Terakhir dari Delapan Bagian Tulisan

Perang

Boleh dikatankan perang dalam taraf tertentu merupakan hiburan bagi kaum lelaki. Juga merupakan medan untuk menguji kejantanan para pemberani (to warani).

Alat yang digunakan dalam peperangan adalah Sumpit (seppu’) dengan anak panah beracun, Tombak (bessi), pedang pendek (alameng), senjata penikam atau badik (gajang)

Perlengkapan Perang Orang Bugis

Masyarakat La Galigo

Masyarakat yang digambarkan dalam epos La Galigo tampak sangat hirarkis. Datu, sang penguasa, orang yang paling terkemuka dalam kerajaan. Dialah yang menjaga keseimbangan lingkungan, baik itu lingkungan alam maupun lingkungan sosial, dan merupakan pewaris keturunan dewa di muka bumi.

Sebenarnya bukan hanya datu tetapi seluruh bangsawan dalam tingkatan tertentu ikut memegang status keramat, karena mereka semua dianggap sebagai keturunan dewata.

Mereka semua dipercaya memiliki darah putih (dara takku). Dalam dunia Bugis kuno kalangan biasa yang berdarah merah dipandang memiliki perbedaan Fundamental dari bangsawan berdarah putih yang membawa esensi kedewataan ke muka bumi. (net/usa)



Tidak ada komentar