Breaking News

Prof Hamdan Juhannis : Adonan Ramadhan (1) 'Menu Kesalehan'


Oleh: Hamdan Juhannis

MAKASSAR.LAMELLONG.COM : - Marhaban Ya Ramadhan. Saya kembali hadir menyapa pembaca  dengan ulasan atau coretan yang semoga bisa terapresiasi.  Setelah Ramadhan lalu saya 'mengusik' pembaca dengan 'gelitik Ramadhan', saya mencoba hadir lagi dengan  tema sentral 'Adonan Ramadhan'. Kata Adonan lebih tepatnya mungkin disematkan pada hasil percampuran bahan kue, 'adonan kue', yang berisi  terigu, telur, susu, mentega dan air yang siap untuk dikukus atau dimasak.

Saya merujuk pada percampuran kue ini, bukan karena kita sering menjumpai banyak kue di saat berbuka, tapi Ramadhan memang seakan menjadi 'adonan hidup'.  Ramadhan kita  menyajikan  'campursari' tentang fenomena sosial.

Ada percampuran antara idealitas dan realitas kehidupan. Ada percampuran pola hidup yang menghasilkan harmoni, dan ada pula  yang menghasilkan kontradiksi,  meyakini agama sebagai jalan kedamaian tapi dengan keyakinannnya justeru melakukan tindakan teror.

Ada pertautan antara simbol dan substansi yang tak terurai.  Simbol ketaatan; kopiah, baju koko, gamis, jilbab, mukena yang bercampur dengan 'kemodernan' sangat tampak saat ramadhan tiba. Ada model buka puasa bercampur dengan silaturrahim, shalat tarawih dilakukan dengan cara keliling, peristilahan menunggu buka puasa yang tercampur dengan tradisi: ngabuburit.

Tak ketinggalan, ramadhan dicampur dengan sajian hiburan yang tiba-tiba menjadi 'islami' di televisi. Kuliah panjang yang biasanya di kampus,  diinovasi di masjid menjadi Kultum: kuliah tujuh menit.

Ramadhan telah menjadi adonan kehidupan. Sisi keberagamaan telah tercampur dengan berbagai hajat hidup. Ramadhan bercampur dengan banyak kepentingan orang yang melakoninya.

Ramadhan sebagai adonan jiwa, mencampur banyak pilihan amalan dan campuran  itu akan tersaji dalam bentuk kukusan ketakwaan. Yang tak kalah pentingnya, cara mencampurnya menentukan 'cita rasa' saat matangnya kukusan itu.  Apakah aktifitas kebaikan selalu saja tercampur dengan niat yang tulus, atau aktivitas itu bercampur dengan 'kepentingan' pencitraan kesalehan.

Adonan adalah sebuah proses percampuran. Ramadhan adalah bulan proses. Kesalehan itu tidak pernah berdiri sendiri, selalu dikitari oleh aspek yang memicunya. Anda jadi saleh karena anda adalah sosok, sama persis anda jadi saleh karena kesalehan adalah modal satu-satunya untuk menjadi berharga.  Campurlah, buatlah adonan yang pas untuk membuat ramadhan tersaji sebagai 'kenikmatan' dalam merajut kesalehan diri.

Bukan kesalehan yang muncul sebagai pernak pernik belaka dari bulan Ramadhan.

Terakhir, semoga berkenaan menyimak adonan keberagamaan kita pada hari-hari Ramadhan berikutnya. (***)

Prof. Hamdan Juhannis :
Gurud Besar UIN Makassar dan Pengurus MW KAHMI SULSEL

Tidak ada komentar