Breaking News

Prof Hamdan Juhannis : Adonan Ramadhan (12) 'Hijrah Tanpa Guru'



Oleh: Hamdan Juhannis

Topik ini adalah saran dari kolega saya di IAIN Palu, Dr. Sofyan Bahmid, yang menawarkan kelanjutan adonan tentang hijrah kawula muda. Betul, fenomena yang perlu diwaspadai saat ini adalah  anak anak muda dengan semangat keberagamaan tanpa guru yang jelas.

Ada yang muncul kesadaran agamanya tiba tiba karena menerima postingan di gadgetnya, sebuah perenungan yang sangat mengetuk hatinya. Dia sendiri tidak tahu asalnya, namun postingan itu mengena dengan situasi kejiwaannya,  jadi penawar kegalauannya untuk mencari jalan kebenaran.

Setelah itu, dia selalu menerima postingan 'pencerahan' dan secara berproses mulailah terjadi pengentalan doktrin keagamaan dari jenis postingan tersebut. Karena sudah merasakan kenyamanan, dia melangkah lebih jauh mencari bacaan-bacaan yang sejenis dari mesin pencari di internet.

Kemudian dirinya sudah membulatkan  tekad untuk mengikuti ajaran yang didapat dari dunia maya tersebut. Lalu apa yang terjadi? Proses hijrah tanpa guru yang jelas. Proses pengentalan agama tanpa pemandu. Pengambilan ajaran tanpa seleksi. Atau Pemahaman agama yang tidak tersaring.

Dia menerima agama dari satu jenis tafsir. Dia Merajut keyakinan dari sumber yang tidak otoritatif. Dia hanya tertarik pada baris ajaran yang memang menyentuh kondisinya, tanpa pernah bertanya motif apa gerangan postingan seperti ini.

Akhirnya yang terjadi, dia hanya mengenal satu jenis tafsiran. Dia tidak pernah tahu dan tidak mau tahu luas dan dalamnya lautan tafsiran Islam dari mufassir satu ke mufassir yang lain. Dia sebatas belajar dari 'guru maya'. Dia tidak bisa membedakan ajaran, yang mana  bagian dari realitas ketuhanan, yang melampauhi ruang dan waktu, dan yang mana menjadi bagian dari realitas kemanusiaan, yang terikat oleh ruang dan waktu, sesuai dengan kondisi lokalitas.

Puncak sikapnya adalah menyalahkan yang berbeda dengan ajaran yang diyakini. Dia mulai tetarik membaca konsep jihad dalam agama, dan tidak memiliki guru nyata untuk menuntunnya. Itulah mungkin salah satu penjelas dari semakin merebaknya kekerasan atas nama agama, yang tidak terlepas dari fenomena hijrah tanpa guru.

Salah siapa? Banyak yang salah. Sohib dan senior saya, Prof. Syirozy, Rektor UIN Palembang, merespon Adonan hijrah kawula muda kemarin dengan menunjuk masalah yang ada pada banyak uztad yang sibuk dengan dirinya, dan belum maksimal berdakwah di dunia maya.  Betul Pak Rektor, tapi masalahnya di dunia situ tidak tersedia 'amplop ceramah'. (***)

Hamdan Juhannis :
Guru Besar UIN Alauddin Makassar dan Pengurus MW KAHMI Sulsel



Tidak ada komentar