Breaking News

Prof Hamdan Juhannis : Adonan Ramadhan (13) 'Promosi Keberagaman'



Oleh: Hamdan Juhannis

Dalam berkarir sebagai pegawai atau pejabat, promosi adalah istilah yang sangat didambakan untuk didapatkan. Banyak pejabat struktural  bermimpi dipromosi ke eselon lebih tinggi. 

Semakin sedikit jumlah eselon, semakin tinggi pangkat struktural seseorang. Hal ini perlu dijelaskan meski hampir semua tahu. Konon, ada seorang calon Bupati melakukan sosialisasi, dia meminta bantuan seseorang untuk mendukungnya. Dia bertanya, kamu eselon berapa. Abdi negara itu menjawab: Saya eselon 4 pak. Lalu calon itu merespon, kalau saya terpilih dan kamu mendukung saya, saya naikkan kamu menjadi eselon 5.

Promosi itu dilakukan oleh atasan  seperti kasus calon Bupati itu, meskipun dia salah paham dengan sistem eselonisasi. Promosi adalah penghargaan atas prestasi kerja. Promosi adalah proses menuju puncak prestasi. 

Dalam kehidupan keagamaan, promosi itu juga terjadi. Namun karena agama adalah hal yang gaib, maka sistem promosi berbeda dengan pegawai karir. Kita tidak sering menggunakan istilah si A memiliki karir beragama yang luar biasa. Dulunya awam, sekarang jadi ustad kondang. 

Atau kita tidak sering mendengar orang berucap: Karir keagamaannya membingungkan. Dulu dia ustad, sekarang preman, tapi dia kembali lagi jadi ustad, cuma tidak setenar dulu. Kita juga tidak bisa membenarkan sebuah plesetan: 'orang itu mantan ustad.'

Dalam beragama, promosi ketakwaan dan kesalehan diri hanyalah Tuhan yang tahu, dan hamba yang terpromosikan hanya merasakan gejalanya. Terkadang kita melihat seseorang dengan simbolnya, kita mungkin meyakini orang itu sudah berada pada derajat keagamaan tertentu, padahal bisa saja tidak. Karena pada orang itu bercokol di hatinya sebuah arogansi keberagamaan, merasa dirinya lebih suci dari yang lainnya.

Di sisi lain, bisa saja simbol agama membawanya menjadi seseorang yang memiliki derajat. Simbol dijadikannya sebagai radar pemantau apakah dirinya tetap 'on the track'. Simbol mencegah dirinya untuk berada dalam kepura-puraan. Simbol membuat apa adanya dirinya beragama.  

Simbol songkok haji yang dipakainya  untuk menunjukkan bahwa dirinya sudah menjalankan ibadah haji, dianggapnya lebih baik, daripada membuka songkok haji untuk menghilangkan jejak hajinya, padahal itu rekayasanya untuk tujuan pencitraan, kalau dirinya sosok yang tawadhu. Intinya, simbol yang menentukan derajat keberagamaan itu adalah niat. Termasuk songkok haji yang tidak pernah lepas, karena kurang sreg rasanya kalau tidak dipanggil 'Pak Haji'. (***)

Tidak ada komentar