Breaking News

Prof Hamdan Juhannis : Adonan Ramadhan (15) 'Matematika untuk Kehidupan'


Oleh: Hamdan Juhannis

Pernahkah anda mengalami saat pertama belajar hitungan, anda menggunakan ikatan lidi? Sekiranya pernah itu artinya  anda sudah tua. Maaf, bukan itu maksud saya, guru kita dahulu mengajarkan cara sederhana untuk memancing nalar kita  menghitung. Guru kita bahkan menyuruh menggunakan jari-jari tangan dan kaki untuk menghitung penjumlahan dan kalau masih kurang, kita meminjam jari-jari teman untuk menggenapkannya. 

Guru kita melarang menggunakan kalkulator untuk menghitung  yang saat itu sudah mulai ada,  meskipun masih dianggap sebagai barang canggih. Tentu didikan seperti ini sebagai upaya mencetak generasi yang bisa mengasah pikirannya,  menggunakan otak untuk mengelola fenomena yang berada di depannya. 

Izinkan saya menarik kembali ingatan saya kepada Guru Marhumah, Guru Matematika di Madrasah saya yang tidak pernah saya lupa,  dengan caranya yang sederhana menanamkan wawasan yang era sekarang disebut dengan 'pembelajaran intergratif:

"Kalian diajar menghitung, supaya kalian bisa  memanfaatkan peluang yang ada. Kalian diajar perkalian untuk mengalikan manfaat yang didapat dari peluang itu. Kalian diajar penjumlahan untuk menambah keuntungan hidup, dan kalian dilatih pembagian untuk memiliki kebiasaan berbagi dalam hidup. Dan kalian diperkenalkan pengurangan untuk memiliki kemampuan mengurangi kerugian dalam kehidupan nyata."

Pesan moral dalam pembelajaran Matematika itu membuat murid-murid memahami secara praktis untuk apa mempelajari sesuatu. Guru Marhumah hanya selalu menekankan, jangan sampai kami belajar menerapkan penjumlahan tapi tidak tertarik menerapkan pembagian. Ada masa kita harus menambah materi dan ada masa kita harus berbagi.

Guru Marhumah mengajarkan Matematika untuk kehidupan. Guru Marhumah tidak mengajarkan Matematika untuk 'lomba' apalagi untuk 'olimpiade'. Tapi beliau menanamkan nilai kemanfaatan sebuah ilmu. Hasilnya, bukan seperti cerita seorang murid yang ditanya: "4 bagi 2 berapa? Dia tidak pernah mau menjawab. Gurunya bahkan mengambil contoh 4 Pisang dibagi 2 tinggal berapa pisangnya? Muridnya balik bertanya itu pisang apa  Bu Guru? Gurunya menjawab: pisang matang. Muridnya menimpali, itulah saya tidak mau menjawab karena saya tidak mau membagi pisang matang saya."

Si murid berhasil mencapai level terbaik dari logika matematikanya, tapi sayangnya gagal mempekerjakan matematika untuk kehidupan. (***)

Hamdan Juhannis :
Guru Besar UIN Alauddin Makassar, dan Dewan Pakar MW KAHMI Sulsel

Tidak ada komentar