Breaking News

Prof Hamdan Juhannis : Adonan Ramadhan (3) 'Puasa Kepuasan'



Oleh: Hamdan Juhannis

MAKASSAR.LAMELLONG.COM : - Saya pernah berpuasa dan setelah berbuka saya terkena sakit perut yang hampir tak tertahankan. Setelah itu saya menderita diare yang sangat parah, mengeluarkan tinja dengan bau yang sulit tercium oleh hidung normal dan terlilit oleh sakit perut yang bekepanjangan. Saya jadinya  tidak berpuasa sampai 5 hari.

Mengapa saya terkena sakit sementara saya berpuasa? Bukankah ada jaminan agama kalau berpuasa itu membuat sehat? Bukankah pula sering terulas dalam perspektif kedokteran bagaimana puasa itu bisa menyehatkan?

Apakah saya sedang meragukan manfaat puasa terhadap kesehatan? Tentunya tidak. Yang saya ragukan adalah pemaknaan saya terhadap puasa yang berimplikasi pada cara hidup sehat. Saya menemukan jawaban bahwa saya masih sebatas memaknai puasa itu secara mekanis.

Saya berpuasa secara jam waktu, dari imsak sampai adzan magrib. Saat berbuka, saya secara total berhenti berpuasa. Saat berbuka seakan saya membalas dendam rasa lapar dan dahaga selama seharian dan mengisinya dengan tumpukan makanan yang tidak sempat tercicipi karena berpuasa secara biologis.

Sepertinya penyebab sakit saya adalah saya belum berhasil memberdayaan puasa psikologis saya. Puasa biologis boleh berakhir, tapi seharusnya berlanjut dengan puasa psikologis yang tidak pernah berhenti, karena puasa biologis itu hanya simbol latihan puasa psikologis, menahan dan mengontrol ego sepanjang waktu.

Saya tersadar, ego saya tak terkendalikan waktu itu. Kesadaran akan diri yang tak terkatrol, lupa baca basmallah saat berbuka, lupa melakukan adaptasi diri dengan kondisi perut yang kosong, tiba-tiba memasukkan makanan tanpa perhitungan.

Jadi saya semakin yakin bahwa kita memang harus selalu berpuasa sampai kapanpun. Puasa mencegah orang yang mudah berpuas ria secara hedonis. Ramadhan datang menyapa kita bisa juga dimaknai sebagai 'alarm' pengingat bahwa apakah puasa yang berarti menahan  betul membuat kita menjadi pribadi yang pintar menahan diri. Kemampuan kontrol diri dalam hidup adalah sumber kesehatan jiwa dan fisik. Jargon 'banyak mendengar, mengurangi berbicara, dan berhenti salah paham' adalah cara sehat berpuasa sepanjang masa. (***)

Prof. Hamdan Juhannis :
Guru Besar UIN Makassar dan Warga KAHMI Sulsel



Tidak ada komentar