Breaking News

Prof Hamdan Juhannis : Adonan Ramadhan (3) "Melawan Mental Gratisan"



Oleh: Hamdan Juhannis

Apa yang harus dilakukan untuk meminimalisir mewabahnya budaya gratisan? Bagaimana mengikis kecenderungan mencari pelayanan 'free of charge'?

Pertama, bangun budaya menghargai karya, apakah dengan cara membelinya atau mengkajinya.  Bangun kebiasaan mencermati  karya orang. Mulailah menghargai dari apa yang menjadi 'passion' kita masing-masing.

Saat kita melancong, berdirilah dan merenunglah sejenak, ketika melihat peninggalan sejarah yang mengagumkan. Renungkanlah bagaimana dengan keterbatasan mereka mampu menghadirkan karya dengan artisektur yang mencengangkan.   Dari sini bisa merajut mental 'membeli' yang berarti membayar kenikmatan 'pandang' yang telah diukir oleh mereka.

Saat kita ditawarkan sebuah fasilitas, renungkanlah apakah tawaran itu sesuatu yang memang layak kita terima, dari sisi kepatutan. Bangun budaya tidak menawar jualan orang-orang kecil. Hargai upayanya dan perjuangannya berjalan jauh, keliling mengayuh sepeda tanpa lelah.

Kedua,  bangun budaya 'tangan di atas.' Selagi mampu, berusaha untuk yang pertama membantu. Bangun budaya harga diri dengan tidak begitu mudah diberi.  Jadilah produser yang produktif, yang selalu berfikir untuk memberi manfaat ke orang, bukan menjadi konsumen yang konsumtif, yang selalu berharap untuk menjadi penerima manfaat.

Saat tidak mampu memberi, jangan lantas begitu mudah menerima. Pernah saya mendengar, kalimat pas untuk ini: 'Terima kasih atas tawaran bantuannya,  insyaallah saya akan hubungi jika  sudah sangat perlu.' Bukan seperti yang saya sering dengar juga: 'Enaknya ini makanan, mungkin karena gratis.'

Prof. Hamdan Juhannis : 
Pengurus MW KAHMI SULSEL, Guru Besar UIN Alauddin Makassar

Tidak ada komentar