Breaking News

Prof. Jasruddin : Tak Setuju Wacana Penghapusan Status Akademik Guru Besar yang Korup


Inilah dosen DPK Kopertis yang baru saja menerima penghargaan satya lencana dari Kemenristekdikti RI, Rabu (2/4/2018), di Kampus UMI Makassar. (foto : nasrullah)


MAKASSAR, LAMELLONG.COM; -- Wacana penghapusan status akademik bagi guru besar atau dosen yang sudah bergelar doktor bila diduga telah melakukan tindakan korupsi tidak terlalu direspon oleh Koordinator Kopertis IX Sulawesi Prof. Dr. H. Jasruddin.

Dalam pertemuan Dewan Guru Besar PTN di Unhas beberapa hari lalu, telah mewacanakan guru besar atau dosen yang bergelar doctor yang terlibat melakukan korupsi meminta dicabut status akademiknya telah viral di media sosial saat ini.


Prof. Jasruddin ketika ditemui usai bertindak sebagai inspektur upacara pada Hardiknas 2018 di UMI Makassar, Rabu (2/4/2018) menanggapi wacana ini, mengatakan, menurutnya, doktor itu adalah gelar akademik tertinggi, sementara professor, itu adalah penghargaan.

Jadi ketika ada dosen, jelasnya, yang bergelar doctor mau dicabut status akademiknya namun tidak terkait pelanggaran akademik atau pelanggaran etika akademik, maka dia tidak setuju .

Karenanya, Prof. Jasruddin, tidak teralu setuju dengan pencabutan status akademik bagi dosen yang bergelar doctor hanya karena bersangkutan diduga melakukan tindakan korupsi, yang tidak ada kaitannya dengan pelanggaran akademik.


Dikatakan, banyak kasus dugaan melakukan tindakan korupsi, tetapi yang bersangkutan sama sekali tidak melakukan korupsi secara materi, tetapi mungkin hanya  karena kebijakannya karena pertimbangan ingin memajukan perguruan tinggi namun dianggap melakukan korupsi, maka inilah mengapa Prof Jasruddin tidak setuju kalau ini diberlakukan.

“Koruptor sebetulnya tidak berarti mengambil uang, tetapi mungkin hanya karena kebijakan sehingga secara administrasi melanggar, karena itu saya tidak tidak setuju wacana tersebut,” tandas Prof. Jasruddin.

Dikatakan, kalau ini diberlakukan, boleh jadi tidak ada lagi yang mau menjadi rektor, tidak ada lagi yang mau menjadi dekan ataupun pejabat struktural di perguruan tinggi, karena takut terjebak dengan kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja.


Bayangkan, kata Prof Jas, kalau ini berlaku, maka dosen yang bergelar doctor namun diduga terlibat korupsi, maka marwah gelar doktor yang bisa hilang.

Dikatakan, saat ini untuk mencapai gelar doctor persyaratannya sangat ketat, tiba-tiba dicabut, karenanya tidak terlalu setuju kalau gelar doctor dengan mudah bisa dicabut.

Justru bagi Prof. Jasruddin, dosen yang bergelar professor atau atau doktor harus diberikan fasilitas yang memadai agar dia bisa lebih meningkatkan kinerjanya. (nasrullah)

     


Tidak ada komentar