Breaking News

Prof Hamdan Juhannis : Adonan Ramadhan (17) "Generasi Minus Imaginasi"



Oleh: Hamdan Juhannis

MAKASSAR.LAMELLONG.COM : Efek terbesar dari mental 'copypaste' itu adalah lemahnya kritisisme masyarakat. Lalu Siapa bertanggung jawab? Persepsi tentang prestasi dalam pendidikan.

Kita terbawa pada persepsi bahwa semakin banyak dipelajari semakin bagus. Itulah sejak kita sekolah dasar, kita sudah terlalu banyak dicekoki mata pelajaran. belum lagi di sekolah agama, lain pelajaran umum, lain pelajaran agama. Lain Pelajaran Membaca, lain pelajaran Mengaji, meskipun pada dasarnya semuanya bermakna mengaji.

Kita tidak mencoba memahami bahwa tidak semua perlu dipelajari di kelas. Karena manusia pada dasarnya sangat responsif dengan situasi baru dan bisa belajar sendiri. Yang perlu ditanamkan adalah dasar-dasar ilmu dan semangat untuk menjadi pembelajar yang baik.

Akibat dari banyaknya mata pelajaran, anak-anak tertumpu pada pelajaran sekolahnya semata, dan tidak lagi punya waktu untuk mengembangkan imaginasinya. Jargon "imagination is more important than knowledge" menjadi semakin jauh dari anak didik.

Berapa juta anak yang sudah berkecimpun dalam dunia pendidikan di negeri ini, sudah berapa banyak yang mengikuti lomba olimpiade sains, dan berapa banyak yang sudah meraih juara? Sudah banyak sekali. Lalu pertanyaannya, sudah adakah dari ratusan juta penduduk negeri yang menjadi penerima hadiah Noble, khususnya dalam karya sastra dan sains? Menjawabnya: Nol Besar.

Apa penyebabnya? Kita selamai ini dicekoki knowledge, knowldge, dan knowledge! Imaginasi anak didik  tidak berkembang. Mereka tidak memiliki ruang untuk mengembangkan kreatifitas berfikirnya. Mereka tidak bisa berfikir "out of the box."

Karena lemah imaginasi, tak satupun anak negeri yang bisa melahirkan karya sastra besar yang bisa bersaing di level tertinggi. Tak satupun anak negeri yang bisa membikin film imaginatif yang bisa menundukkan karya orang-orang Hollywood. Dan tak satupun dari anak bangsa  di zaman modern ini mendapatkan penghargaan tertinggi dunia karena terobosan kemanusiaan dan penemuan ilmiah.

Semua itu karena imaginasi kita tidak terlatih dari kecil, tidak terlatih untuk terbang menembus langit dan melanglang buana tanpa batas. Anak didik selalu diperhadapkan dengan mata pelajaran yang berjubel, mana lagi orang tua mereka menuntutnya  untuk 'rangking 1'. (***)


Hamdan Juhannis :
Guru Besar UIN Alauddin Makassar dan Dewan Pakar MW KAHMI Sulsel

Tidak ada komentar