Breaking News

Prof Hamdan Juhannis : Adonan Ramadhan (18) "Mengentaskan Mentalitas Latah"



Oleh: Hamdan Juhannis

Salah satu efek mentalitas yang ditimbulkan oleh generasi yang lemah imaginasi adalah munculnya mentalitas latah, sebuah mentalitas yang  suka ikut-ikutan, mentalitas menjadi pengikut. Mereka ikut-ikutan pada apa yang menjadi kedigjayaan masyarakat atau bangsa yang lain.  Mereka tid├ák memiliki prinsip ketika berbuat, tidak berpijak pada nilai moral yang mereka junjung.

Lihatlah bangsa ini, lakon apa yang kita tidak tiru dari mereka yang kita anggap masyarakat maju. Kita makan jenis makanan yang mereka makan atau minum minuman khas mereka supaya kita bisa seperti mereka. Kita berpakaian mengikuti mode mereka supaya kita memiliki kepercayaan bahwa kita adalah kelas mereka. Kita kehilangan diri sendiri, kita gadaikan imaginasi kreatif kita. Kita tidak lagi memiliki orisinilitas diri sebagai bangsa.

Anak-anak kita berbondong-bondong pergi menonton di bioskop untuk melihat karya bangsa yang dianggap digjaya. Anak-anak kita tanpa sadar dimasukkan dalam suasana nyaman, duduk santai, kursi empuk, sambil mengunyah makanan ringan, lalu disuntikkan,  doktrin multi dimensi tentang prilaku budaya yang bertentangan dengan sendi agama dan budaya sendiri. Kita tidak memiliki upaya besar untuk menonton film sendiri,  yang lahir dari budaya sendiri atau jalan kehidupan masyarakat sendiri.

Kita akhirnya tercipta sebagai generasi yang  telah terjatuh dalam penjajahan budaya yang mengenaskan. Masih adakah kebanggaan tentang suprioritas bangsa yang akan diceritakan pada anak-anak cucu kita?

Kita tidak perlu menunggu sampai membikin sendiri film canggih untuk kita tonton, karena faktanya orang India selalu menonton film negerinya sendiri. Kita tidak perlu menjadi bangsa dengan segala sumber alam untuk maju, karena buktinya Singapura melakukannya. Kita tidak perlu menunggu menjadi bangsa kaya untuk hidup bahagia, faktanya Bangsa Bhutan dengan pendapatan perkapita rendah, tapi dikenal sebagai bangsa dengan indeks kebahagiaan yang sangat tinggi.

Kita perlu belajar membangun jati diri  dari sekarang sebelum semakin terlambat.
"If You lose your character you have lost everything." Itulah 'ancaman' Woodrow Wilson pada Amerika, negeri yang dipimpinnya saat itu, yang juga telah melanda negeri ini.

Dan ciri bangsa yang mengalami krisis identitas, adalah selalu bangga dalam keunggulan kuantitas: "Kita adalah bangsa dengan umat Islam terbesar di dunia".  (***)

Hamdan Juhannis :
Guru Besar UIN Alauddin Makassar, dan Dewan Pakar MW KAHMI Sulsel

Tidak ada komentar