Breaking News

Prof Hamdan Juhannis : Adonan Ramadhan (24) 'Menumbuhkan Jiwa Filantropis'



Oleh: Hamdan Juhannis

MAKASSAR.LAMELLONG.COM : Pernahkah anda mendengar cerita sebuah keluarga kaya yang seluruh dinding rumahnya sudah digantungi berbagai surat pernyataan penyerahan semua harta kekayaan ke berbagai yayasan untuk digunakan sebagai pemberdayaan masyarakat saat keluarga tersebut sudah meninggal?

Maksud digantungnya surat itu pertama sebagai pengingat  kalau kekayaan mereka sudah dihibahkan kepada yang lain atau  sudah diwakafkan. Bisa juga diartikan sebuah cara untuk menutup celah kepada siapa saja yang ingin bermaksud buruk pada kekayaannya yang melimpah.

Apa yang dilakukan oleh keluarga itu disebut sebagai prilaku filantropis, jiwa kedermawanan terhadap sesama manusia. Jiwa filantropis didasari oleh keyakinan bahwa harta yang kita miliki bukan untuk kita, tapi untuk kemasalahatan kehidupan ini. Filosofi filantropi inilah dasarnya sangat kental dalam ajaran agama bahwa kebajikan itu letaknya pada kesediaan kita menafkahkan sebagian harta yang kita cintai.

Itulah, kaum filantropis ini mendapatkan kebahagian tertinggi dengan kemampuannya memaksimalkan pencarian harta untuk kemanusiaan. Dasar mereka berbagi adalah cinta terhadap sesama. Mereka berkorban karena rasa persaudaraan yang sangat tinggi. Sampai mereka rela untuk memberikan semuanya atas nama persaudaraan itu, yang menjadi tujuan mulia dan cita-cita kehidupannya.

Kaum filantropis tidak mengenal istilah memperkaya diri atau untuk memperkaya keluarga. Kaum filantropis menganggap kekayaan itu bukan pristise  tetapi  sekadar 'talang air' kehidupan untuk disalurkan kepada manusia yang membutuhkan ulurannya.

Bagaimana dengan masyarakat Muslim kita? Ajaran Agama sudah demikian paripurna mengajarkan pentingnya berbagi jauh sebelum kita mengenal istilah dari Bahasa Yunani tersebut. Meskipun ajaran ini sangat jelas, mentalitas filantropis kita masih lemah. Paling tidak, kita belum dikenal sebagai bangsa dengan tingkat kedermawanan yang tinggi.

Apa yang harus dilakukan segera untuk memupuk jiwa filantropis generasi? Pertama, ajari anak-anak kita untuk selalu menyumbang. Kalau menyumbang jangan kasih uang receh. Selalulah bawa anak-anak kita  ke Panti Asuhan. Bawa mereka jalan keliling kota bukan menatapi gedung mewah, tapi melihat dan merasakan derita para tunawisma, gelandangan, dan pengemis.

Dari sana mereka bisa melihat realitas betapa pentingnya menghadirkan misi suci untuk mengangkat derajat kemanusiaan mereka. Dan jangan lupa,  yakinkan anak-anak bahwa berbagi itu untuk kebahagiaan. Kata anak muda sekarang: "Ini hanya dunia bro, jangan lupa bahagia!". (***)

Hamdan Juhannis :
Guru Besar UIN Alauddin Makassar, dan Dewan Pakar MW KAHMI Sulsel

Tidak ada komentar