Breaking News

Prof Hamdan Juhannis : Adonan Ramadhan (25) 'Menyumbang yang Mrmberdayakan'



Oleh: Hamdan Juhannis

MAKASSAR.LAMELLONG.COM : - Pernahkah anda mengalami dilema di tengah jalan saat menemukan peminta-minta? Di satu sisi anda akan menyumbang karena kasian dengan hidupnya, dan memberinya uang saat itu artinya secara langsung membantunya. Di sisi lain anda berfikir, kalau memberinya uang anda juga secara langsung berkontribusi untuk membuat dia tetap menjadi pengemis.

Dilema seperti ini sebenarnya pertanda bawa kita diliputi keresahan terhadap hidup orang-orang tak berpunya. Kita ingin mengeluarkan mereka dari jeratan keterpinggiran. Namun, kita juga berfikir bahwa menyumbang itu sejatinya yang memberdayakan.

Menyumbang yang memberdayakan tidak bisa semata menggunakan aspek rasa. Menyumbang itu sejatinya ada unsur 'visioning'. Apa yang terjadi dengan orang ini kalau kita ulurkan uang receh setiap kita melewatinya di lampu merah.

Jadi menyumbang yang terbaik adalah yang membebaskan. Menyumbang itu sejatinya membuatnya tidak tergantung.
Itulah pentingnya strategi menyumbang yang tepat. Itulah perlunya menyumbang pada lembaga filantropis yang memiliki rekam jejak integritas yang baik. Lembaga yang mampu menyalurkan sumbangan dengan tepat sasaran, kredibel dan transparan.

Tidak mudah memang mengarahkan sumbangan dengan melalui pengelolaan pihak ketiga, karena kita bangsa yang masih bermasalah secara 'trust' pada lembaga pengelolaan dana sumbangan. Kita dibuat malas untuk menyumbang dengan hadirnya seklompok orang di lampu merah untuk donasi gunung meletus, wabah penyakit, atau konflik horisontal di suatu tempat.

Terkadang kotak yang disodorkan di kaca mobil tertulis penggalangan dana untuk solidaritas di daerah konflik tertentu yang kita sendiri baru dengar. Kita bertanya dalam hati, 'track record' apa yang dibawa organisasi ini? Bagaimana memastikan sumbangan ini sampai ke mereka?

Bagaimana kalau mereka itu mirip dengan seorang peminta-minta dengan modus seperti ustad yang melancarkan aksinya dengan lantunan doa-doa keselamatan pada pengendara, dan saat dicueki suaranya dipercepat dan tangannya langsung memukul mobil si pengendara. Belum lagi modus lain yang lebih apik dalam bentuk industrialisasi pengemis.

Intinya, ajarlah anak-anak kita menatap masa depan kaum terpinggirkan seperti mereka merancang masa depannya sendiri. Sekiranya diri mereka 'ditakdirkan' seperti itu, apa yang mereka mau lakukan? Kalau memberikan sesuatu, pastikan itu tidak membuatnya semakin terpuruk. Apalagi kalau memberikan sesuatu tidak lantas membuatnya terketuk, tapi justeru merasa menang, karena kedoknya membuat anda iba.

Relakah anda menyumbang dalam keadaan tertipu? Apalagi anda menyumbang sesuatu yang anda tidak tahu untuk siapa? Sepertinya anda baru saja melakukannya saat membayar belanjaan. Hehehe...Mau memberdayakan tapi nyatanya terpedaya. (***)


Hamdan Juhannis :
Guru Besar UIN Alauddin Makassar,  dan Dewan Pakar MW KAHMI sulsel. 



1 komentar:

  1. Materi yg dibahas bagus tapi pas dibaca, jadi capek terlalu bertele-tele..

    BalasHapus