Breaking News

Prof Hamdan Juhannis : Adonan Ramadhan (29) 'Mengukus Adonan Stagnasi Umat'


Oleh: Hamdan Juhannis

MAKASSAR.LAMELLONG.COM : - Adonan subuh terakhir ramadhan ini berada pada titik kulminasi kritik yang saya peruntukkan pada generasi muda Islam. Adukan dan campursari refleksi saya yang ditujukan kepada penguatan karakter dasar anak-anak masa depan kita adalah karena masih mengharap mereka memutus mata rantai keterbelakangan umat. 

Keresahan saya mungkin karena alasan klasik yang tidak pernah bisa dipadamkan ketika melihat hamparan realitas, bahwa Islam Indonesia memiliki jumlah sangat mayoritas tapi dengan peran yang minoritas.

Indonesia yang dihuni mayoritas Muslim tidak dikenal sebagai negara maju. Kita tidak memiliki indikator cukup untuk disebut negara berperadaban tinggi, mulai dari sisi pelayanan kesehatan, pengelolalaan pendidikan, pemenuhan kesejahteraan rakyat sampai pada ketenteraman kehidupan warga.

Suka atau tidak, penemuan yang berkontribusi terhadap kemanusiaan belum ada yang bisa dibanggakan sebagai umat. Prestasi Olahraga yang sering mengharumkan bangsa juga semakin terpuruk. Beruntung, kita masih terhibur dengan sosok Muslim yang merumput di liga sepakbola yang maju, misalnya Muhammad Salah di Liverpool yang selalu bersujud saat sudah mencetal gol. Yah, semacam pelipur lara karena faktanya dia bukan bangsa Indonesia.

Tak terkecuali peran politik umat Islam Indonesia sangat lemah di dunia internasional. Kita selalu berteriak tentang kemerdekaan Pelestina, tapi who care? Teriakan itu sepertinya hanya menjadi ritual tahunan yang tidak perlu para negara para pemangku kepentingan untuk memperhatikannya.

Yang juga paling memiriskan, ulasan tentang Umat Islam Indonesia hanya menjadi catatan pinggir dalam peta dunia Islam. Islam Indonesia hanya sering diulas dalam tumpukan Islam di Asia Tenggara.

Tidak masuk dipikiran saya, bangsa dengan penduduk Islam terbesar di dunia, keragaman budaya dan bahasa, yang bisa hidup rukun dengan kebihnekaan sering hanya dibahas beberapa halaman, sementara negara-negara Muslim Arab, dan mereka 'simply Arabic', yang sekarang berkonflik ria menghabiskan nyaris satu buku untuk mengulasnya.

Teman-teman perempuan yang berjilbab saat berinteraksi dengan orang dari bangsa lain, sering ditanya apakah mereka Muslimah dari Malaysia? Sedih juga diidentifikasi sebagai Muslim dari negeri yang ibarat saudara bungsu kita.
Tidak ada pilihan lain kecuali segera berbenah dan segera keluar dari keteprukan mental, khususnya mental beragama.

Mari kita mengukus adonan keprihatinan dan perlawanan terhadap stagnasi dengan menyodorkan sejumlah jalan keluar:

Pertama, kita format ulang teologi keberagamaan kita dan menguatkannya kepada anak-anak masa depan kita. Doktrin, ajaran, dan ujaran berbau fatalis kita kesampingkan. Yang dikedepankan adalah ajaran tentang kekuatan olah pikir manusia yang diberikan Tuhan untuk melahirkan kreasi menakjubkan. Doktrin teologi tentang kekuasaan manusia ini akan merubah cara pandang umat saat melantungkan doa-doa keselematan, mereka akan memperhadapkan potensinya di depan sang Pencipta, bukan semata menengadah mempersoalkan kelemahan dan ketidakberdayaan diri.

Kedua, Dibutuhkan sosialisasi dan pendalaman tafsir kualitatif Qur'an dibanding tafsir berbau kuantitatif untuk anak-anak masa depan kita. Salah satu faktor membuat keberagamaan kita stagnan pada ritual individual karena lemahnya pemahaman makna kualitatif beragama. Umat Islam cenderung beragama secara matematis, dan selalu disuguhkan dakwah yang menghitung pahala. Sementara yang mendesak sekarang adalah pemahaman bahwa Islam adalah agama pembebasan, agama pro-kemajuan. Tugas sekarang mengajak para mufassir untuk merekonstruksi tafsir kualitatif Qur'an, dan melatih Muballigh untuk mengutamakan penyampaian nilai-nilai kualitatif beragama.

Ketiga, doktrin eskatologis tentang janji surga selayaknya dikuatkan pada semangat kebermanfaatan hidup. Mari selalu mengulangi kepada anak-anak masa depan kita bahwa yang masuk surga yang memiliki penemuan yang bermanfaat bagi kemanusiaan. Amal jariyah yang akan mengantarkan anak-anak ke surga karena kegunaan tanpa henti dari temuan mereka. Doktrin surga ini membantu juga anak-anak masa depan kita mempersepsi ulang makna jihad. Bahwa untuk berjihad tidak perlu ke mana-mana. Medan Jihad kita sangat jelas. Anak-anak masa depan, gantungkan cita-citamu untuk Indonesia: Indonesia mengobati, Indonesia Menemukan, Indonesia Meneliti, Indonesia Menjuarai, Indonesia menderma, atau Indonesia berwirausaha. Semua itu adalah Jihad terkeren bagi anak muda kita.

Akhirnya, saya menganggap adonan selama sebulan subuh ramadhan sudah tekukus. Silahkan disantap. Semoga sesuai selera, lezat, enak dan pastinya halal. Maaf kalau ada yang kurang bahan dan tidak pas campurannya. Saya undur diri. Salam fitrah untuk semua. Wassalam. (***)

Tidak ada komentar