Breaking News

Ibu Parmi, Penjual Air Tahu di Usia Senja



Citizen Reporter

Laporan: Sri Wahyuni

Mahasiswa FKIP Universitas Muslim Maros (UMMA)


Lamellong.com, Maros; -- Usia  Ibu Parmi 60 tahun, usia jika dihubungkan dengan pegawai Negeri saatnya untuk pensiun baginya. Namun berbeda dengan Parmi. Di usia seperti ini setiap hari ia harus menjual dagangannya, yaitu air tahu.

Tiap hari ibu satu anak ini, ketika ayam jantan berkokok membangunkan orang yang lelap dari tidurnya. Lain halnya dengan Parmi, ia akan sibuk membuat air tahu yang akan dia jual di pagi harinya.Dengan bahan dasar kedelai, setiap pagi ia mengelolahnya 1-2 kg kedelai.

Setiap setengah kilo kedelai bisa jadi 10 botol air tahu. Tapi setiap harinya ia hanya buat setangah atau satu kilogram kedelai. 

Parmi adalah asal Jawa, ia sudah 15 tahun tinggal di kampung orang. Sebagai perantau yang jauh dari sanak keluarga, membuat ia harus bekerja untuk membantu anaknya membiayai kebutuhan mereka berdua.

Saat ditemui di pinggir jalan Maros-Pangkep Sulsel, lebih tepatnya Kampung Tambua yang hanya modal berteduh di bawah pohon besar. Ia terlihat lesuh, 'ngantuk', tatapan kosong yang menanti akan ada yang membeli dagangannya.

Sejak satu bulan lebih, ia berjualan air tahu, sebelumnya ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

“Dulunya saya kerja sebagai pembantu, karena usia tidak sekuat dulu lagi, untuk itu ganti profesi sebagai penjual air tahu,” ujar Parmi dengan dialek Jawa yang masih kental.

Saat ditanyakan suaminya, ia langsung menunduk sejenak, lalu memandang penulis media ini dan berkata, “Suamiku sudah meninggal 6 tahun lalu” sambil melemparkan senyum lepas.

Dari raut wajahnya, terlihat jelas bagaimana kerasnya kehidupan dijalani di kampung orang. Terlebih lagi, ia hanya mengontrak rumah di Bonto Kapetta, untuk itu agar beban anaknya berkurang makanya ia berjualan air tahu.

Ia berjualan air tahu dengan modal 60.000 rupiah, namun terkadang hasil dari dagangannya habis sebagai modal dan biaya transportasi.

Harga perbotol air tahunya Rp. 5.000 rupiah, dan perhari hanya dapat terjual 7-10 botol. Kalau ramai bisa sampai 20 botol. Kalau mendung bisa tekor, ujarnya.

“Alasannya kenapa, mendung bisa "tekor" karena air tahu yang dijual itu dingin, jika di siang hari yang cerah baru ada yang membeli. Jika mendung kadang biar sebotol pun tidak laku,” katanya.

Saat ditanyakan manfaat air tahu itu, ia menjawab dengan sedikit senyum di bibirnya, “bagus untuk kesehatan, obat kuat dan bagus untuk ibu hamil nanti anaknya putih."

Ia juga mengatakan kalau air tahu ini tidak bisa tahan lama, untuk itu setiap hari ia hanya membuat 20 botol. Karena jika tidak habis, tidak bisa dijual lagi untuk besok.

Ia berjualan hanya di satu lokasi yaitu sekitar Tambua Maros bersebelahan jalan di depan Pertmanina.

Ditanya, kenapa berjualan di satu lokasi saja. “Kalau pindah-pindah lokasi nanti tidak ada yang mau beli mbak” jawab Parmi.

Jika dagangannya tidak ada yang laku pada hari itu, Parmi mengaku, air tahu itu dibagikan ke tetangga.

"Kalau tetangga tidak mau ya buang to mbak," jawabnya dengan raut wajah kekecewaan.


Tidak ada komentar