Breaking News

Menang Pilkada 2018, di Jawa, Romy Menguat Wapres di Jokowi




Oleh : Alimuddin
Pemred Lamellong.com


Pilkada serentak 2018 meski masih menyisakan beberapa tahapan, tetapi setidaknya, hari H Pemungutan Suara telah dilaksanakan dan hasilnya pun sudah dapat diketahui.

Dengan kemenangan usungan PPP di tiga Jawa, Jabar ( Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum), Jateng (Ganjar Pranowo-Taj Yasin) dan Jatim (Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak), semakin menguatkan isyarat atau tanda-tanda akan semakin bertambah pula simpatik Jokowi kepada Romahurmuziy untuk didampingi sebagai Calon Wakil Presiden pada Pemilu 2019.

Pembukaan Munas Alim Ulama PPP di Semarang baru-baru ini, Presiden Joko Widodo menyebutkan kalau Romahurmuziy pantas untuk mendampingi dirinya sebagai Wapres.

Beberapa bulan belakangan ini, Gus Romy, sapaan akrabnya, mewarnai pemberitaan di berbagai media, baik cetak maupun online. Bahkan setelah diungkap habis soal kasus Tabloid Obor Rakyat yang telah berstatus inchrach atau divonis bersalah di lembaga peradilan.

Diungkapkannya kasus  ini secara terang benderang menimbulkan tanggapan pro dan kontra terhadap Gus Romy. Cukup kencang menghiasi halaman sejumlah media. Membuat Gus Romy semakin banyak tampil di berbagai stasiun televisi yang ditonton jutaan masyarakat Indoneaia, bahkan di mancanegara.

Ketua Umum termuda Partai Politik ini, Romahurmuziy yang Ketua Umum DPP PPP, membuat dirinya semakin digandrungi anak muda. Apalagi kepiawaiannya main musik dengan Group Bandnya, kecintaan anak-anak muda pada Gus  Romy semakin tak terbendung.


Rupanya, bukan hanya itu,  artikulasi suara dalam penyampaian orasi di setiap kesempatan, semakin membuka tabir, kalau Gus Romy, seorang orator hebat, intelektual, santri dan tawadhu kepada ulama.

Meski ia bukan dari disiplin ilmu hukum, bukan juga ekonom, kecuali ia alumni ITB, tetapi saat dia tampil mewakili Fraksi PPP dalam kajian hukum dan ekonomi saat dihelatnya Kasus Century di Parlemen Senayan, Romy bukanlah sosok yang mengecewakan bahkan menjadi ikon PPP, mampu merubah image berbagai kalangan kalau PPP partainya kaum tua menjadi partainya orangtua lebih-lebih anak muda.

Dalam banyak kesempatan, memang Gus Romy tak pernah tepuk dada kalau hanya dirinyalah saja yang pantas mendampingi Calon Presiden Joko Widodo sebagai Cawapres pada Pilpres 2019, tetapi Cicit Pendiri Nahdlatul Ulama, K.H. Abd. Wahab Hasbullah ini, tetap menghargai partai - partai koalisi dan sosok Jokowi, "soal Cawapres akan ditentukan oleh Parpol Pengusung dan Jokowi sendiri," itu yang kerap Gus Romy ucapkan menjawab pertanyaan wartawan.

Sekedar diketahui, hingga saat ini, parpol yang telah menetapkan usungannya pada Pilpres 2019 melalui konstitusi parpolnya masing-masing, yakni; PPP (39 kursi), Partai Hanura (16), Partai Nasdem (35), Partai Golkar (91) dan PDI-Perjuangan (109).

Sementara syarat parpol atau dan gabungan parpol mengusung Capres-Cawapres pada Pilpres 2019, harus memiliki  20 % kursi. Berarti 20 % x 560 kursi = 112 kursi.

Jokowi sudah memiliki kursi dari parpol pengusungnya sebanyak 290 kursi, menyisakan 270 kursi.


Partai Gerindra telah menetapkan, Ketua umumnya, Prabowo Subianto, yang akan diusung sebagai Capres pada Pilpres 2019. Partai ini memiliki kursi di DPR RI hasil Pemilu 2014 sebanyak 73 kursi. Ini berarti masih memerlukan partai politik koalisi yang memiliki kursi sekurang-kurangnya 39 kursi.

Parpol yang belum memutuskan usungannya pada Pilpres 2019, yakni; P. Demokrat (61 kursi), PKB (49), PAN (47) PKS (40)

Jika dilihat perkembangan politik selama ini, PKS lebih intens kepada Bakal Capres Prabowo, meski parpol ini hingga saat ini belum memutuskan siapa yang akan diusung jadi Capres sesuai peraturan partainya.

Dari awal pihak PKS mengisyaratkan kepada Partai Gerindra, dengan mengajukan 9 nama untuk Cawapres dari Capres Prabowo. Semakin cepat menetapkan salah satu dari 9 nama untuk mendampingi Prabowo maka semakin cepat pula PKS menetapkan kalau partai tersebut akan berkoalisi dengan Partai Gerindra dalam mengusung Capres-Cawapres pada Pilpres 2019.

Jika Partai Gerindra (73) berkoalisi dengan PKS (40), maka koalisi ini memiliki sebanyak 113 kursi, sudah memenuhi syarat batas minimal.

Jika ini benar-benar terjadi dan tak ada tambahan dari parpol lainnya, yakni; PKB (47 kursi), PAN (49) dan Partai Demokrat (61), ini menunjukkan kalau ketiga partai ini kuat kemungkinan akan berkoalisi dengan modal 157 kursi.


Tetapi jika salah satu dari parpol tersebut masuk berkoalisi di salah satu dari Jokowi atau Prabowo, tentu saja koalisi ini tak mungkin bisa memenuhi syarat 20% kursi parlemen.

Nama - nama yang akhir-akhir ini beredar selain Joko Widodo dan Prabowo sebagai Bakal Capres adalah Amin Rais, Gatot Nurmantyo, Tuan Guru Bajang.

Dan terakhir nama JK-AHY pun semakin kencang dihembuskan pihak Partai Demokrat. Jika koalisi ini benar - benar terwujud, berarti Pilpres 2019 terdapat 3 pasang Calon yang akan maju berkompetisi.

Tetapi hingga tulisan ini naik tayang, baru Bakal Capres Jokowi yang memiliki koalisi parpol. Sementara Prabowo baru Partai Gerindra yang masih memerlukan parpol koalisi.

Apalagi koalisi parpol poros ketiga, masih sangat rapuh terbentuk, karena salah satu saja yang tidak masuk di koalisi itu mimpi ini tetaplah hanya sekadar mimpi.

Tanpa mendahului deccicion maker, pihak koalisi parpol user sendiri Bakal Capres Jokowi, Romahurmuziy, terlihat lebih pantas jadi Cawapres mendampingi Capres Jokowi pada Pilpres 2019.

Selain representasi santri, teknokrat juga intelektual, ia pun semakin digandrungi anak muda. Apalagi dengan Romahurmuziy dinilai akan semakin lebih mudah menerjemahkan bagaimana langkah Jokowi selaku Presiden mendatang.


Tidak ada komentar