Breaking News

Pasar Pattontongang Maros Ini Hanya Ramai Pada Ahad dan Rabu



Nitizen Reporter

Laporan: Riska Ayu Ninsi

Mahasiswa FKIP Universitas Muslim Maros (UMMA)


Lamellong.com, Maros; -- Pasar kecil  ini berdiri di tengah-tengah pemukiman penduduk Desa Pattongtongan Kecamatan Mandai kabupaten Maros. Aktitas jual beli ini mulai beroprasi pada tahun 2013 silam.

Tak jauh berbeda suasana pasar lainnya, pemandangan tidak hanya menyuguhkan berbagai jenis kebutuhan, tapi juga merekam berbagai macam ekspresi, dari senang, sedih, kesal, ataupun marah.

Mulai dari tangisan anak-anak yang merengek untuk dibelikan mainan hingga ibu-ibu yang terus bernegosiasi soal harga.

Pasar ini  aktif pada hari Ahad dan Rabu. Namanya diambil dari desa lokasi pasar ini beroperasi.


Meski lahan pasar terbilang kecil, namun tidak memutuskan semangat juang ataupun kreatifitas pedagang mendirikan lapak-lapak di pinggir jalan bermodalkan penyangga kayu, atap terpal, dan meja-meja dari kayu bekas.

Pada hari Ahad, pasar itu lebih ramai pembeli. Letaknya cukup strategis di pinggir jalan tembus ke Makassar.

Mudah dilewati pengendara yang hendak ke kota, sekadar jalan-jalan maupun liburan. Tidak sedikit warga singgah untuk sekedar membeli kebutuhannya.

Salah seorang pedagang di pasar itu, Hamsina (31), kepada media Kamis (12/7/2018) mengatakan, sehari-hari menjual kue tradisional, ia mengaku sangat senang profesinya sebagai penjual kue tradisional.


Sebelumnya, hanya ibu rumah tangga ini bisa mengasah kemampuan dalam membuat kue guna membantu suaminya menghasilkan rupiah.

Tidak kecil penghasilan didapatnya, sehari dia mengaku bisa mengantongi omset Rp 2 juta setiap hari pasar.

"Pembeli yang datang selain orang-orang yang lewat, juga banyak langganan. Kue juga selalu laku terjual semua,’’ tuturnya dengan logat Bugis kental.

Wanita asli keturunan darah Bugis itu juga menambahkan, pekerjaannya tidaklah semudah menghitung omsetnya, pasalnya ia harus begadang semalaman dengan dibantu oleh empat orang-orang yang ikut bekerja dengannya untuk membuat kue-kuenya.

Bertanya soal kelelahan, dia hanya memamerkan deretan giginya yang rapi bak senyum pepsodent. Dari senyum dan tatapan matanya bisa terlihat semangat berkobar.


Penjual kue yang akrab disapa Hamsina itu menuturkan, pasar ini dulunya hanya tanah kosong yang hampa tak terurus.

Sampai pada tahun 2013, Kemang Hamsina, tanah ini difungsikan menjadi lahan pasar. Sebagian besar pedagang pun berdomisili dari desa ini sendiri.

Pasar Pattontongang ini cukup bersih dan terurus, meski tak ada petugas khusus yang membersihkannya seperti pasar lainnya.

Salah satu pembeli mengaku puas dengan keadaan pasar yang cukup bersih dan aman meski tak ada petugas khusus yang menangani keadaan pasar.

Sebenarnya tidak semua pasar kecil itu terkesan kotor dan rawan. Bisa dibuktikan dengan adanya Pasar Pattontongan ini tidak seperti apa yang orang bayangkan.


Tidak ada komentar