Breaking News

Menyambut 80 Tahun Dr. Sulastomo, Aktivis Otentik di Era 7 Presiden RI

Dr. Sulastomo, Ketua Umum PB HMI Periode 1963 - 1966 (foto, istimewa) 

Oleh Ismet Djafar

Tepat setahun yang lalu,  saya memimpin rombongan kecil beberapa Pengurus Majelis Nasional Korps Alumni HMI (MN KAHMI) selaku Ketua Panitia HUT Ke-51 KAHMI 2017, bertandang ke rumah Ketua Umum PBHMI 1963-1966 dr.Sulastomo,MPH atau yang biasa dipanggil Mas Tom di Kawasan Cinere Depok.  Kunjungan ini salah satu program atau kegiatan dari rangkaian berbagai kegiatan dalam rangka HUT ke-51 KAHMI tahun 2017 yang lalu. Kegiatan kunjungan ke rumah-rumah para senior HMI/KAHMI adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk merawat silaturahmi dengan para tokoh senior HMI/KAHMI yang sudah sepuh, diantaranya kunjungan ke rumah Mas Tom, Prof Dr Beddu Amang dan tokoh-tokoh yang lain termasuk Ibu Zahara MA,  aktivis HMI 1951-1955 asal UGM yang kemudian mendapat beasiswa Master kuliah di Cornell University USA 1958-1960 bersama Deliar Noer (Ketua Umum PBHMI 1953-1955 asal UNAS Jakarta) sebelum mereka menjadi suami isteri.

Ketika kami tiba di rumah Mas Tom yang tampak sederhana nan asri itu,  tak diduga ternyata sambutan hangat penuh kemesraan yang kami terima dari penghuni rumah yang tidak lain adalah Mas Tom dan Mbak Nunuk, sungguh luar biasa.  Suguhan aneka makanan yang melimpah di sore hari jelang maghrib itu memberi "kode keras" bahwa kedatangan kami sangat ditunggu-tunggu.  Bagi saya pribadi yang sudah lama kenal dekat,  tidak cukup pada hidangannya tetapi yang lebih khusus lagi dan menyenangkan selaku aktivis adalah bisa bertukar pikiran atau lebih tepatnya menerima transfer pemikiran dan energi positif dari orang yang  saya kagumi dan menjadi pelaku sejarah yang otentik di masa tujuh Presiden RI. Mas Tom adalah pelaku sejarah sejak era Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY hingga Jokowi.

Ditengah pembicaraan ringan,  tiba tiba Mas Tom bicara agak serius.
"Met, tolong Anda tulis sejarah tentang dinamika pemilihan Formatur /Ketua Umum PB HMI setiap Kongres", kata Mas Tom sambil mengarahkan pandangannya ke saya.  Saat itu saya seakan tersentak dan berpikir sejenak,  apa ya pesan dibalik "perintah" itu. Kemudian saya balik bertanya kepada Mas Tom.  Apa yang menarik dari peristiwa pemilihan Formatur / Ketum PBHMI Mas Tom?  Bukankah akhir akhir ini setiap drama pemilihan justru kadang yang muncul kesan negatif,  misalnya Kongres XXVIII HMI 2013 ketika Arief Rosyid terpilih. Itu adalah Kongres "terlama" di dunia,  karena molor hingga satu bulan dan pindah-pindah tempat hingga tiga kali. Belum lagi munculnya keributan dan sebagainya.

"Begini Met,  "sergah Mas Tom.  Adakah diantara Anda yang hadir ini tahu mengapa Kongres VI HMI tahun 1960 di Ujungpandang (Makassar) melahirkan dua Ketua Umum sekaligus? Keduanya Ketum PBHMI yang sah dari forum yang sama.  Keputusan Kongres VI menetapkan masa jabatan PBHMI yang sebelumnya hanya dua tahun (resminya) setiap periode lalu ditetapkan oleh Kongres saat itu menjadi tiga tahun (1960-1963) dengan ketentuan Ketua Umum Noersal (mahasiswa FISIP UI) masa baktinya 1,5 tahun pertama dan Ketua Umum Oman Komarudin (mahasiswa FE UI) masa bakti 1,5 tahun berikutnya.

Lalu saya bertanya kepada Mas Tom,  mengapa solusi itu yang menjadi pilihan? Bukankah sudah lazim dalam setiap pemilihan, apapun proses dan dinamikanya toh yang terpilih hanya satu orang Ketua Umum yang sah.  Disini Mas Tom mengatakan pentingnya  membaca dan memahami sejarah. Suatu peristiwa memiliki latar belakang kejadiannya atau bahasa agamanya, setiap ayat Al Quran ada asbabun nuzulnya.
Mas Tom menceritakan bagaimana situasi Kongres VI HMI 1960, dimana telah terjadi polarisasi yang tajam menjelang pemilihan Formatur/Ketua Umum antara pendukung Noersal (umumnya aktivis Islam garis keras) berhadapan dengan pendukung Oman Komarudin yang dominan HMI "abangan" yang suka pesta. Karena dikhawatirkan terjadi perpecahan organisasi,  akhirnya disepakati pembagian masa jabatan seperti disebutkan diatas. Pesan moralnya adalah keutuhan organisasi adalah hal utama, diatas (beyond) kepentingan kelompok/faksi.

Inilah sekelumit tulisan yang saya haturkan sebagai tanda rasa syukur atas HUT ke-80 Mas Tom. Mas Tom adalah pribadi yang komplit,  lahir di Surabaya 8 Agustus 1938, lulus dokter di UI 1964 (mahasiswa teladan) kemudian lulus master (MPH) di USA 1977,  memimpin HMI 1963-1966, pahlawan pejuang di garis perbatasan Malaysia-Indonesia sebagai dokter Dwikora 1965-1967,  politikus dan anggota DPR/MPR 1968-1971, anggota MPR 1988-1998 dan Sekjen partai Parmusi 1969-1973, pendidik /pengajar Pascasarjana di UGM, UI,  UMJ, pendidik kader HMI, Konsultan lembaga internasional seperti Bank Dunia dll,  Ketua Tim SJSN 2001-2004 yang melahirkan JSN /JKN (BPJS Naker & BPJS Kes), Direktur BUMN PT Askes 1986-2000, memimpin ormas IPHI (1990-2000), memimpin Yayasan YAMP yang membangun hampir seribu masjid hingga sekarang,  kolumnis dan aktivis pers (anggota Dewan Pers 2001-2006 dan memimpin koran Pelita hingga sekarang) dan bapak dari 8 anak yang sukses.
Semoga sehat selalu dan dirgahayu Mas Tom,  bahagia HMI. ***

Ismet Djafar :
Ketua Bidang Energi dan Pertambangan MN KAHMI 2017-2022, Wasekjen MN KAHMI 2012-2017, Sekretaris Eksekutif MN KAHMI 2002-2012.


Tidak ada komentar