Breaking News

Prof Mahsun : Islam Nusantara, di Antara Kesesatan Berpikir dan Perang Generasi Keempat



Mahsun :  
Guru Besar Bidang Linguistik Forensik Universitas Mataram dan Kepala Badan Penwgembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud (2012--2015).

MAKAASSAR.LAMELLONG.COM : - Terdapat tiga persoalan mendasar yang patut dikuak dari topik di atas, pertama, ada apa dengan istilah Islam Nusantara, kedua mengapa Islam Nusantara disebut sebagai salah satu bentuk kesesatan berpikir, dan ketiga mengapa Islam Nusantara dikaitkan dengan perang generasi keempat? 

Untuk lebih fokus pembicaraan ihwal persoalan-persoalan di atas, termasuk persoalan lain yang terkait dengan masing-masing persoalan tersebut dipaparkan secara berturut-turut berikut ini.

A. Ihwal Islam Nusantara
Istilah Islam Nusantara mungkin diikhtiarkan sebagai padanan dari Istilah Islam Jawa (Woodward, 1989, 1999) atau Islam Sasak (Budiwanti, 2000). Meskipun harus dicatat, bahwa pada konstruksi asli berbahasa Inggris untuk karya Woodward, merupakan konstruksi preposisional: Islam in Java (preposisi: in yang sepadan dengan preposisi: di, dalam bahasa Indonesia yang memiliki peran sintaktis sebagai pemarkah lokatif/tempat), sehingga konstruksi itu mestinya menjadi Islam di Jawa. 

Itu sebabnya muncul usulan seperti diajukan, almarhum K.H. Hasjim Muzadi, sebagai Islam di Nusantara.

Terlepas dari itu, istilah Islam Nusantara menjadi kontroversial akhir-akhir ini karena kandungan muatan semantis yang disematkan padanya. Prof. Azyumardi memaknai Islam Nusantara sebagai Islam distingtif yang merupakan hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi dan vernakularisasi Islam Universal  dengan realitas sosial, budaya, dan agama di Indonesia. 

Ortodoksi Islam Nusantara (kalam Asy'ari, fiqih mazhab Syafi'i, dan tasawuf Ghazali) menumbuhkan karakter wasathiyah yang moderat dan toleran. Dalam konteks etnis Minang misalnya, Prof. Azyumardi menjelaskan bahwa Islam Nusantara itu diwujudkan dalam "Adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah".

Adat merupakan lokal genius dan Islam datang serta menyebar melalui proses vernakularisasi dan indigenisasi _(Dikutip dari WAG Guru Besar Kahmi, 31 Juli 2018, pkl. 14.03).

Apabila dicermati argumentasi dan per contoh yang diajukan Prof. Azyumardi tentang konsep Islam Nusantara di atas, maka terlihat bahwa terdapat pencampuradukan antara Islam sebagai seperangkat sistem nilai (nilai yang berhubungan dengan aqidah, syariah yang di dalamnya menyangkut ibadah dan muamalah) dengan prilaku/tingkah laku (orang yang menyebut dirinya penganut Islam) yang merefleksikan sistem nilai itu.

Apa yang dicontohkan Prof. Azyumardi tentang Islam Nusantara untuk etnis Minang: "Adat yang bersandi sarak-kitabullah" sesungguhnya merupakan contoh yang menganggap Islam sebagai seperangkat sistem tingkahlaku, bukan Islam sebagai seperangkat sistem nilai.

Dengan mengadopsi dan mengadaptasikan konsep yang dianjukan Parson (1977) dalam bukunya Social System and the Evolution of Action Theory, bahwa sistem nilai (Parson menyebutnya sebagai sistem budaya) mengontrol sistem tingkah laku manusia melalui sistem sosial dan sistem kepribadian.

Sementara itu, suatu sistem nilai dapat merefleksikan diri dalam berbagai varian tergantung ranah kehidupan atau ruang dan waktu di mana nilai itu diejawantahkan. 

Sebagai contoh, nilai tentang anjuran untuk senantiasa menjaga silaturahim antarsesama manusia. Dalam masyarakat Sumbawa  direfleksikan dalam berbagai varian tergantung pada ranah kehidupan, misalnya, dalam ranah pertanian muncul perilaku "basiru", yaitu  silaturahim dalam wujud tolong menolong antarsesama saat menanam atau memanen padi; dalam pembangunan (perumahan) muncul perilaku "basanata", yaitu silaturahim dalam bentuk tolong menolong saat membangun rumah/tempat tinggal; yang belum tentu pada masyarakat lainnya memiliki wujud perilaku itu tetapi, mungkin pada ranah lain, perilaku yang menjadi refleksi sistem nilai itu dapat muncul.

Contoh lain, sikap toleran pada masyarakat Muslim Sasak yang hidup berdampingan dengan masyarakat Hindu di desa Babakan atau di dusun Gumitri Lombok Barat. 

Pada masyarakat Muslim dan Hindu Sasak di Babakan, muncul perilaku "NGEJOT", yaitu toleransi dalam bentuk saling memberi bantuan dapat berupa saling mengirimkan bahan makanan saat acara keagamaan masing-masing, seperti acara Mauludan untuk umat muslim dan hari raya Galungan untuk umat Hindu, yang berbeda dalam merefleksikan nilai toleransi dengan komunitas Islam-Hindu di dusun Gumitri. 

Di dusun Gumitri, nilai toleransinya diwujudkan dalam bentuk perilaku upacara PITRAYADNYA, yaitu toleransi dalam bentuk upacara syukuran bersama di tempat berbeda tetapi berdekatan pada rangkaian acara ngaben antara dua komunitas berbeda keyakinan. Perilaku semacam itu tidak terdapat pada komunitas Islam-Hindu yang terdapat di Karang Taliwang (ingat ayam Taliwang, Cakranegara) meskipun unsur pembentuk masyarakatnya sama, yaitu Islam-Hindu. 

Di sini ada dimensi ruang dan waktu/sejarah yang berbeda dialami oleh kedua tipe komunitas Islam-Hindu di Lombok (komunitas Islam-Hindu di desa Babakan dan dusun Gumitri Lombok barat dengan  komunitas Islam-Hindu di Karang Taliwang, Cakranegara, kota Mataram).

Komunitas Hindu yang merefleksikan nilai toleran di desa Babakan atau di dusun Gumitri  berasal dari Nusa Penida, Bali, yang datang ke Lombok untuk mencari pekerjaan/sebagai transmigran), sedangkan komunitas Hindu di Cakranegara berasal dari Karang Asem-Bali yang datang ke Lombok untuk menjajah (lebih jauh lihat Mahsun, 2006).  

Kesemua contoh refleksi dari nilai-nilai di atas, menunjukkan bahwa nilai dasarnya tidak berubah, hanya wujud perilakunya yang bervariasi.

Nah persoalannya, apakah Islam hanya dipandang sebagai seperangkat perilaku bukan seperangkat nilai yang mendasari munculnya perilaku tersebut?

Adat istiadat merupakan salah satu bentuk perilaku, yang dapat berupa perilaku non verbal dan dapat pula berupa perilaku verbal. 

Sebagai bentuk perilaku maka adat dikontrol oleh satu sistem yang paling dasar dan bersifat abstrak, yaitu sistem nilai melalui sistem sosial dan sistem kepribadian. Persoalannya, apakah Islam mau dipandang sebagai seperangkat sistem nilai (aqidah dan syariah yang di dalamnya menyangkut nilai-nilai yang terkait dengan ibadah dan muamalah) atau hanya merupakan seperangkat sistem tingkah laku.

Konstruksi "Adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah", sebenarnya menggambarkan etnis Minang sadar sesadar-sadarnya bahwa adat istiadat yang mereka miliki dikontrol oleh satu sistem nilai dasar, yaitu sistem nilai yang terdapat dalam Islam (kitabullah) dan karena itu Islam dipandang sebagai seperangkat sistem nilai bukan seperangkat sistem tingkah laku. Itu artinya, bahwa tidak semua adat yang diwarisi turun-temurun sebelum Islam diberlakukan pada era Minang-Islam tanpa penyaringan. 

Nilai-nilai Islamlah menjadi penapisnya, yang tidak sesuai tentu dimodifikasi agar sesuai/tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman. Bukan sebaliknya, nilai-nilai keislaman menyesuaikan diri dengan adat istiadat (termasuk sistem nilai yang mendasari munculnya adat istiadat tersebut).

Nilai-nilai dalam Islam, sangat jelas, seperti disebutkan dalam Al Quran, bahwa Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Quran agar menjadi petunjuk untuk seluruh alam (tidak mengenal ruang dan waktu). Dia merupakan seperangkat nilai yang menjadi rujukan dalam bertingkah laku setiap orang yang mempercayainya. (bersambung)


Tidak ada komentar