Breaking News

Prof. Mahsun : Islam Nusantara, di Antara Kesesatan Berpikir dan Perang Generasi Keempat, (Tammat)

Mahsun :  Guru Besar Bidang Linguistik Forensik Universitas Mataram dan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud (2012--2015).

MAKASSAR.LAMELLONG.COM : - Terdapat tiga persoalan mendasar yang patut dikuak dari topik di atas, pertama, ada apa dengan istilah Islam Nusantara, kedua mengapa Islam Nusantara disebut sebagai salah satu bentuk kesesatan berpikir, dan ketiga mengapa Islam Nusantara dikaitkan dengan perang generasi keempat?
Untuk lebih fokus pembicaraan ihwal persoalan-persoalan di atas, termasuk persoalan lain yang terkait dengan masing-masing persoalan tersebut dipaparkan secara berturut-turut berikut ini, (Red. Bag. Akhir dari tiga tulisan).

C. Islam Nusantara dan Perang Generasi Keempat.

Uraian yang cukup panjang lebar di atas menuntun kita pada satu pertanyaan yang menjadi inti pembahasan dalam bagian ini, yaitu apakah hubungan antara istilah Islam Nusantara dengan perang generasi keempat.
Untuk membahas hal ini ada baiknya dipaparkan terlebih dahulu tentang konsep perang generasi keempat serta ciri-cirinya.

Perang generasi keempat yaitu perang yang tidak lagi menuntut mobilisasi peralatan tempur secara besar-besaran tetapi dilakukan melalui perang ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya serta agama (perang informasi: Ipoleksosbud-Agama).

Peperangan semacam ini tidak lagi mengandalkan konfrontasi secara langsung, melainkan melalui pemanfaatan segala jaringan yang ada baik politik, ekonomi, sosial, dan militer untuk meyakinkan para pengambil keputusan politik musuh bahwa tujuan strategis mereka tidak bisa diraih atau terlalu mahal jika dibandingkan dengan manfaat yang diharapkan.

Oleh karena itu, pelibatan dua aktor atau lebih dengan kekuatan yang tidak seimbang dan mencakup spektrum perang yang luas merupakan karakter utama dari perang generasi keempat.

Karakter utama lainnya adalah bersifat transnasional, tidak mengenal medan perang yang pasti, tidak membedakan sipil dan militer, tidak mengenal masa perang dan damai, serta tidak mengenal garis depan.

Fokusnya adalah mematahkan kehendak pembuat keputusan. Mereka menggunakan jalur yang berbeda untuk menyampaikan pesan yang berbeda kepada khalayak yang berbeda.

Tujuan dari pesan itu adalah:
(a) mematahkan semangat musuh (pembuat kebijakan),
(b) mempertahankan kehendak rakyat mereka sendiri, dan
(c) memastikan pihak yang netral tetap netral atau memberikan dukungan diam-diam terhadap alasan yang mereka gunakan.

Singkatnya, perang generasi keempat bersifat Ipoleksosbud, jaringan terbentuk secara sosial dan membutuhkan waktu yang panjang. Perang ini merupakan antitesis dari teknologi tinggi dan perang singkat yang selama ini diintroduksi Pentagon (Mustarom, 2014).

Ada beberapa hal yang menjadi penanda perang generasi keempat, yaitu :
(a) menurunnya harmoni dalam masyarakat,
(b) menurunnya loyalitas kenegaraan dan meningkatnya loyalitas alternatif, terutama budaya atau agama,
(c) hilangnya monopoli negara atas perang,
(d) munculnya entitas non negara yang mampu menguasai loyalitas utama masyarakat,
(e) peran dominan dari propaganda dan tekanan psikologis untuk mengubah pikiran para pembuat kebijakan politik.

Oleh karena satu-satunya yang dapat mengubah pikiran seseorang adalah informasi, maka informasi merupakan elemen utama dalam setiap perang generasi keempat.

Dalam bahasa militer, seperti dinyatakan Menteri Pertahanan RI, pada acara silaturahim Pimpinan tujuh instansi strategis negara, termasuk Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, dengan Menhan di Aula Dharma Canti, Pusat Perdamaian dan Keamanan Indonesia, Sentul, 7 April 2015, perang generasi keempat adalah perang murah meriah.

Ada beberapa tahap yang dilalui dalam perang murah meriah tersebut, yaitu:
1. Infiltrasi paham: ideologi, politik, ekonomi, sosial,  dan budaya, serta agama (Ipoleksosbud-Agama);
2. Cuci Otak melalui introduksi paham-paham tertentu,
3. Adu domba;
4. Perang saudara;
5. Pecah belah
6. Kuasai, yang tidak hanya berupa fisik tetapi dapat berupa penguasaan non fisik yaitu hal-hal yang menyangkut ipoleksosbud.

Apabila ditinjau dari batasan dan ciri-ciri perang generasi keempat di atas, maka sesungguhnya perang generasi keempat merupakan bentuk perang konsepsi. Lalu apa hubungan perang konsepsi tersebut dengan kehadiran istilah Islam Nusantara?

Seperti dipaparkan di atas bahwa Istilah Islam Nusantara memiliki kecacatan bawaan secara terminologis dan konseptual, yang mengidentikkan Islam sebagai seperangkat sistem perilaku, bukan seperangkat dari sistem nilai yang mendasari munculnya perilaku beserta variannya itu sendiri.

Akibatnya, ketika hendak mengargumentasikan keberadaan istilah Islam Nusantara, termasuk konsep yang dikandung di dalamnya, terpaksa dipertentangkan dengan konsep Islam lainnya, seperti Islam Arab/Timur Tengah, yang sudut pandangnya ditekankan pada penampakan dalam sistem perilaku, misalnya dengan menyebutkan bahwa Islam Nusantara lebih toleran, beradab, berbudaya, saling menghormati sementara Islam Arab sebaliknya. 

Penganut pandangan Islam Nusantara lupa bahwa sesungguhnya nilai dasar yang harus diperjuangkan dalam hubungan sesama manusia dalam Islam di antaranya adalah nilai-nilai: toleran, beradab, berbudaya, saling menghormati.
Nilai ini bukanlah milik dari Islam Nusantara saja tetapi merupakan milik dari Islam itu sendiri.

Dengan demikian, tatkala ada pihak-pihak yang memperjuangkan Islam yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar itu mestinya harus berani dikatakan bahwa pihak tersebut bukanlah pihak pemeluk Islam yang sesungguhnya, sebagaimana keberadaan ISIS yang dilansir sebagai ciptaan pihak tertentu yang memiliki kepentingan tertentu, bukan lalu melabeli mereka dengan istilah Islam dengan embel-embel bernuansa geografis, seperti Islam Arab, Islam Timur Tengah dan lwin-lain.
  
Munculnya klaim kepemilikan nilai semacam ini sangat berpotensi untuk memecah belah umat, tidak hanya dalam konteks kehidupan keumatan dalam sebuah negara bangsa tetapi akan memecah belah kesatuan umat Islam secara menyeluruh, sehingga keberadaan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin menjadi ternodai.

Dalam konteks ini, disadari atau tidak, keberadaan istilah Islam Nusantara termasuk muatan konsepsi di dalamnya, dapat menjadi amunisi bagi terciptanya perang generasi keempat yang akan memporakporandakan bangunan kebersamaan antarsesama pemeluk Islam baik dalam konteks keindonesiaan maupun sesama pemeluk Islam dalam konteks Islam sebagai rahmatan lil 'alamin.

Sudah sepatutnya, istilah-istilah baru untuk melabeli Islam, termasuk Istilah Islam Berkemajuan, mulai sekarang dihindari, karena di samping akan mengkerdilkan Islam itu sendiri juga akan menjadi amunisi yang dapat dimanfaatkan oleh pihak lain untuk memperkeruh suasana silaturahim antarsesama penganut Islam. (Tammat)


Sumber Rujukan Pustaka:

Budiwanti, Erni. 2000. Islam Sasak: Wetu Telu Versus Waktu Lima. Yogyakarta: LKiS.
Geertz, C. 1960. The Religion of Java, III. The Free Press.
Mahsun. 2006. Bahasa dan Relasi Sosial: Kesepadanan Adaptasi Linguistik dengan Adaptasi Sosial. Yogyakarta: Gama Media.
Mahsun. 2015. Indonesia dalam Perspektif Politik Kebahasaan. Jakarta: Rajawali Perss.
Mustarom, K. 2014. Perang Generasi Keempat (4GW): Mengubah Paradigma Perang. www.syamina.org.
Parsons, Talcott. 1977. Social System and the Evolution of Action Theory. New York: The Free Press A Division of MacMillan Publishing Co.
Woodward, Mark R. 1989. Islam in Java: Normative Plety and Mysticism. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Hairus Salim HS, 1999. Islam Jawa: Kesalehan Normatif Versus Kebatinan. Yogyakarta: LKiS.

Tidak ada komentar